Kamis, 31 Maret 2011

KIAT MELAMAR PEKERJAAN DAN WAWANCARA Drs. Soleh Amini Yahman. MSi. PSi



Saat ini kebutuhan untuk mendapatkan pekerjaan terasa semakimn meningkat. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tenaga kerja nyang terkena PHK maupun meningkatnya jumlah lulusan sekolah yang belum mendapatkan pekerjaan. Disisi lain perusahaan atau instansi tidak lagi terlalu banyak membutuhkan tenaga kerja tambahan.
Kondisi-kondisi diatas semakin memperketat persaingan yang harus dialami oleh orang yang sedang berusaha mencari pekerjaan. Diakui atau tidak orang biasanya mencari pekerjaan dengan mempertimbangkan pengalaman dan latar belakang pendidikannya, artinya biasanya mereka akan memilih pekerjaan yang sesuai dengan segala latar belakang yang miliki mereka. Anggapan bahwa “yang penting dapat pekerjaan” tampaknya kurang popular di mata mereka. Ini bias dimaklumi karena suatu pekerjaan biasanya akan dikaitkan dengan status maupun gengsi seseorang. Seorang sarjana, misalnya akan merasa malu atau gengsinya turun kalau harus bekerja sebagai tenaga operasional/operator. Belum lagi pertimbangan gaji yang akan mereka terima yang biasanya dianggap tidak sesuai dengan pemenuhan kebutuhan hidup mereka.
Solusi dari kesulitan mencari pekerjaan sebenarnya dapat diatasi apabila seseorang berani melakukan terobosan dalam hidupnya dengan cara menjadi wiraswastawan. Menjadi wiraswastawan memang tidak mudah. Ada beberapa karakter pribadi yang harus dimiliki, antara lain seseorang harus berani mengambil resiko, kreatif menciptakan kesempatan, ulet dalam bekerja, motivasi berprestasi yang tinggi, belum lagi persiapan modal dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuka suatu usaha. Kondisi tersebut seringkali menyurutkan langkah seseorang untuk terjun ke bidang wiraswasta. Meskipun sebenarnya dengan berwiraswasta sebenarnya seseorang telah menciptakan lapangan kerja sendiri bahkan kemungkinan besar manpu menyediakannya untuk orang lain.
Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, semakin banyaknya lulusan yang baru, dan PHK besar-besaran yang terjadi karena krisis ekonomi serta keengganan untuk berwiraswasta semakain mempersulit seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Konsekuensi dari keadaan ini bagi para calon pelamar pekerjaan adalah, mereka harus memiliki sesuatu yang lebih, yang dapat membedakannya dengan pelamar lainnya. Sehingga kesempatannya untuk “dilirik” oleh perusahaan atau instansi akan lebih besar. Oleh sebab itu selain diperlukan adanya kemampuan untuk ketrampilan di bidang yang ingin dilamarnya, karakter pribadi, juga kiat-kiat khusus untuk mempromosikan diri agar perusahaan memperoleh kesan yang bagus terhadap diri pelamar. Kiat-kiat ini diperlukan dari saat pelamar menulis surat lamaran hingga dalam menghadapi wawancara.

Pembuatan Surat Lamaran
Surat lamaran pekerjaan memiliki arti penting bail bagi perusahaan maupun bagi pelamar pekerjaan. Dengan surat lamaran perusahaan akan memberikan penilaian tentang kualifikasi pelamar pekerjaan untuk dijadikannya sebagai bahan seleksi awal. Sedangkan bagi pelamar pekerjaan, surat lamaran itu sendiri pada dasarnya sama dengan surat penjualan, yaitu surat yang memperdagangkan jasa, pengetahuan, keahlian, pengalama kerja si pelamar itu sndiri. Oleh karena itu surat lamaran kerja harus dapat membuat simpati dan perhatian sehingga menimbulkan prospective employer yang dengan cepat dapat menarik kesimpulan dari perusahaan untuk memperoleh calon pegawaiyang cakap dan sesuai dengan yang dibutuhkannya.
Surat lamaran sebaiknya dibuat singkat, padat, rapid an semarik mungkin. Suatu perusahaan bias jadi akan menerima berpuluh bahkan beratus surat lamaran yang akan diseleksi. Proses penyortiran surat lamaran ini akan berlangsung cepat sehingga surat lamaran yang terlalu panjang justru akan menyulitkan proses ini karena untuk mengetahui isinya diperlukan waktu yang relatif lebih lama dan biasa jadi hal ini kurang menarik perhatian petugs penyortir.
Surat lamaran perlu dibuat menarik karena dari bentuk fisik tersebut dapat memberikan kesan keseriusan si pelamar terhadap pekerjaan yang akan dilamarnya, kesan ini penting untuk menarik minat perusahaan terhadap diri si pelamar. Membuat surat lamaran yang menarik bisa dengan menggunakan kertas HVS polos putih dengan diketik menggunakan komputer atau dengan mesin ketik biasa, jangan terlalu tipis misalnya kwarto 80 gram, diusahakan untuk tidak melipat. Selain itu perlu juga diperhatikan isi surat, dengan mempergunakan sistematika penulisan surat lamaran biasanya format surat lamaran tersusun sebagai berikut :
1. Kepala Surat
Kepala surat adalah bagian yang menunjukkan identitas suatu perusahaan, dalam hal surat lamaran karena ini merupakan surat pribadi maka identitas menyangkut diri si pelamar.
2. Kota dan Tanggal Surat
Keterangan kota, menunjukkan tempat dimana si pelamar membuat surat lamaran kerja. Sedangkan tanggal, menunjukkan kapan surat lamaran itu dibaut atau dapat juga menunjukkan kapan iklan lowongan kerja tersebut dikeluarkan.
Penulisan kota dan tanggal biasanya dituliskan di pojok kanan atas, atau menurut selera sesuai dengan bentuk-bentuk surat yang lain.
3. Perihal dan Lampiran
Setelah menulis kota tempat tinggal dan tanggal waktu pembuatan surat lamaran kerja, selanjutnya adalah menulis tentang hal (perihal) menunjukkan keinginan yang kita maksud.
Lampiran menunjukkan jumlah lembaran dokumen yang disertakan sebagai penguat isi dari surat lamaran kerja yang dikirimkan. Biasanya lampiran ini berisi : pas foto, ijazah, daftar riwwayat hidup, foto copy pengalaman kerja, foto copy sertifikat, surat keterangan berkelakuan baik, kartu tanda penduduk, dan surat-surat lain yang dapat menambah nilai dari si pelamar.
4. Tempat dan Alamat yang Dituju
Tempat dan lamat ini menunjukkan nama perusahaan atau instansi yang dituju, apabila memungkinkan sebutkan nama dari orang yang dituju tersebut.
5. Salam Pembuka
Merupakan kalimat pembuka atau merupakan penghormatan di awal surat lamaran kerja.
6. Paragraf Pertama
Paragraf pertama merupakan paragraf pembuka sebagai pengantar sebelum masuk ke dalam paragraf inti.

7. Paragraf Kedua
Paragraf kedua merupakan paragraph inti yang menguraikan keinginan menjadi karyawan atau karyawati pada suatu perusahaan yang dituju.
8. Paragraf Ketiga/Penutup
Paragraf ini mengungkapkan kalimat sebagai tanda terima kasih tellah diberikan kesempatan untuk mencoba mengisi lowongan kerja.
9. Salam Penutup
Sebagai salam penutup dalam mebuat surat lamaran kerja biasanya ditulis salam penutup yang merupakan tanda penghormatan si pelamar terhadap perusahaan/instansi yang dituju.
10. Tanda Tangan dan Nama Jelas
Tanda tangan dan nama jelas pelamar ditulis di bawah salam penutup. Tanda tangan dan nama jelas ini merupakan identitas sekaligus pertanggungjawaban dari pembuat surat lamaran kerja.
Bentuk dari surat lamaran pekerjaan diatas beserta keterangan nomor selanjutnya dapat dilihat pada lampiran.
Yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan surat lamaran ini adalah bahwa surat lamaran tersebut merupakan sarana pertama bagi seseorang untuk memperkenalkan diri sekaligus dalam rangka “menjual diri” agar mampu menarik perhatian perusahaan yang membutuhklan tenaga kerja. Kesan pertama ini harus bernilai positif karena langsung maupun tidak langsung kadang kesan inilah yang justru merupakan kunci pembuka untuk dapat melangkah ke proses berikutnya dalam usaha seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Persiapan Menghadapi Wawancara
Wawancara biasanya dilakukan setelah penyaringan tes tertulis selesai, atau setelah dinyatakan lulus tes tertulis. Wawancara ini adalah dapat diadakan langsung setelah tes tertulis maupun melalui panggilan sebelumnya.
Upaya dilakukannya wawancara ini adalah untuk mengetahui kemampuan mental dan perilaku dari calon pegawai dimana pada tes sebelumnya kemungkinan besar hal itu belum mendapatkan penggambaran. Wawancara terkadang juga berfungsi untuk mengkonfirmasikan data yang telah ditulis oleh pelamar pekerjaan dalam surat lamarannya.
Bagi seorang pelamar, ada beberapa hal yang perlu diingat dalam persiapan menghadapi tes wawancara yaitu :
1. Tanggal diadakannya tes wawancara
2. Hari apa diadakannya tes wawancara
3. Jam berapa diadakannya tes wawancara
4. Tempat diadakannya tes wawancara
Selain hal tersebut diatas, yang dipersiapkan adalah persiapan diri sendiri, misalnya :
1. Sikap mental
Mental kita harus dipersiapkan sejak awal, kerana mengirim surat lamaran berartu kita sudah siap dengan kemampuan kita. Jangan sampai ada kesan minder atau sebaliknya terlihat sombong. Siapkan diri kita dengan engetahuan sesuai denga yang kita miliki. Semakinluas wawasan kita maka akan semakin besar perusahaan memilih kita untuk menempati posisi yang ada.
2. Datang tepat waktu
Usahakan untuk dateang tepat waktu, atau lebih baik dating 30 menit sebelum wawancara dimulai. Hal ini untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya, keringat yang berlebihan karena perjalanan, rambut yang kurang rapid an lain sebagainya. Dengan waktu yang agak longggar tersebut masih ada kesempatan untuk memperbaiki segala yang kurang sehingga kesan siap untuk diwawancarai selalu ada dalam diri.
3. Kerapian dan kebersihan
Pakaian dapat menggambarkan watak atau kepribadian sesorang. Memakai pakaian yang sopan, bersih dan rapi akan sangat menunjang kesan positif terhadap diri seseorang.
Bagi wanita jangan mengenakan rok yang terlalu pendek sehingga terkesan memamerkan paha. Pilihan warna pakaian juga jangan terlalu mencolok sehingga terlalu menarik perhatian.
Pria dapat mengenakan kemeja lengan panjang warna putih atau warna lain yang muda dengan dipadu celana panjang warna gelap dasi yang sesuai dengan pakaian yang kita pakai dapat juga dikenakan.
Apabila kita mersa perlu membawa surat-surat penting yang berkaitan dengan lamaran kita sebaiknya jangan dibawa hanya dengan memasukkannya ke dalammap kertas karea kesannya akan menurunkan penampilan. Masukkanlah surat-surat tersebut ke dalam map kulit atau tas kerja yang lebih pantas.
Sepatu yang dikenakan pun harus mendapat perhatian, bagi wanita jangan mempergunakan sepatu dnegan hak yang telalu tinggi. Pria jangan menggunkan sepatu kets, semirlah sepatu terlebih dahulu agar kesan siap kerja ada pada diri.
Selain itu kerapian rambut dan kebersihan gigi juga perlu diperhatikan guna menambah keyakinan diri wewangian yang lembut bisa juga dipergunakan.
4. Alat tulis
Bawalah alat tulis yang utama seperti ballpoint, pensil dan kalkulator untuk menjaga kemungkinan apabila pewawancara memberikan persoalan hitingan yang harus kita selesaikan dengan cepat. Jangan sampai kita terpaksa meminjam pada pelamar lain karena ini akan mengesakna bahwa kita kurang persiapan dalam menghadapi wawancara ini.
5. Kesopanan
Di temapat wawancara, duduklah dengan sopan di tempat yang sudah disediakan sambil menunggu giliran dipanggil. Bicara seperlunya dengan orang yang ada di sekitar kita. Nada bicara perlu dijaga agar tidak mengganggu aktivitas yang berlangsung di sekitar kita.
Jika nama kita dipanggil persiapkan diri sebaik mungkin. Berjalanlah dengan tenang menuju pintu atau mengikuti petugas yang memanggil. Ketuklah pintu terlebih dahulu walaupun pintu dalam keadaan terbuka sambil mengucapkan salam, jangan masuk sebelum dipersilakan. Duduklah di tempat yang telah disediakan apabila pewawancara telah mempersilakan duduk. Usahakan agar tetap tenang dan percaya diri.

6. Menjawab pertanyaan
Jawablah pertanyaan-pertanyan yang diajukan oleh pewawancara dengan mantap. Apabila pewawancara menanyakan hal yang khusus, dengarkanlah baik-baik sambil terus menatap mata. Apabila ada hal yang kurang jelasberkaitan dengan pertanyaan katakan dan mohon untuk diulang lagi.
Jangan menjelek-jelekkan tempat kerja sebelumnya apabila ditanya tentang alasan keluardari tempat kerja sebelumnya. Apabila tidak tahu sesuatu yang ditanyakanmaka jawab dengan jujur bahwa kita tidak mengetahui tentang hal tersebut, jangan sekali-kali memberi jawaban bohong. Apabila telah selesai wawancara dan petugas wawancara telah mempersilakan meninggalkan tempat, maka tinggalkan ruang dengan tenang dengan sebelumnya menjabat tangan mengucapkan terimakasih dan memberi salam.
Hal itulah kira-kira yang bisa dipersiapkan sebelum seseorang melamar pekerjaan maupun menghadapi wawancara. Usaha-usaha ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Terakhir kali bahwa semua usaha ini tetap harus kita ikuti dengan doa karena tanpa doa rasanya akan kurang bermakna.

PENDIDIKAN KARAKTER dan HARDIKNAS

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei tahun ini mengambil tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Sebuah tema strategis yang memang amat kontekstual dengan situasi kekinian yang dinilai makin abai terhadap persoalan-persoalan akhlak dan budi pekerti. Degradasi moral dan involusi budaya telah menjadi fenomena rutin yang makin menenggelamkan kemuliaan dan martabat bangsa. Perilaku kekerasan, vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kelatahan kolektif. Untuk mendapatkan harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan ilmu permalingan dan berselingkuh dengan dunia klenik dan mistik. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas kolosal yang menyuguhkan repertoar tragis, pilu, dan menyesakkan dada. Dalam situasi demikian, bangsa dan negeri yang besar ini perlu diingatkan kembali pada nilai-nilai genuine yang secara historis telah membuat kesejatian diri bangsa menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Tanpa bermaksud untuk tenggelam ke dalam romantisme masa silam, yang jelas bangsa kita perlu belajar pada nilai-nilai kearifan lokal masa silam
sebagai basis perilaku untuk memasuki pusaran arus global yang makin rumit dan kompleks sehingga bangsa kita sanggup menjadi bangsa yang maju dan modern tanpa harus kehilangan pijakan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Negeri kepulauan yang memiliki kemajemukan dalam soal etnis, bahasa, budaya, ras, dan berbagai kekuatan primordial lainnya itu sejatinya bisa membangun sebuah kesenyawaan peradaban yang menggambarkan mosaik keindonesiaan yang toleran, demokratis, bermartabat, berbudaya, dan beradab.

Namun, secara jujur mesti diakui, 65 tahun hidup merdeka, bangsa kita justru kian tenggelam dalam cengkeraman budaya pragmatis, instan, dan bar-bar, yang dinilai telah gagal memerdekakan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Di tengah capaian pembangunan yang demikian pesat secara lahiriah, rohaniah bangsa kita justru kering-kerontang; tak sanggup membebaskan diri dari ketertindasan dan kesewenang-wenangan. Merebaknya perilaku tak beradab, seperti korupsi, penggusuran, main hakim sendiri, dan berbagai aksi kekerasan lainnya bisa menjadi bukti bahwa bangsa kita belum sepenuhnya bisa hidup merdeka. Pekik “merdeka!” hanya lantang diucapkan di atas mimbar dan podium orasi. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Masih banyak warga bangsa yang harus mengais rezeki dari tong-tong sampah, tidur di emper-emper toko, dan harus main kucing-kucingan dengan Satpol PP ketika mereka mencari peruntungan di trotoar atau alun-alun kota. Dengan dalih menjaga ketertiban dan kenyamanan kota, elite negeri ini rela berbuat biadab terhadap sesamanya dengan menggusur dan menistakan rakyat kecil yang hidup susah dan terlunta-lunta.
Merebaknya aksi-aksi kekerasan dan vandalisme di atas panggung sosial negeri ini sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari karakteristik kekuasaan yang (nyaris) tak pernah berpihak kepada “wong cilik”. Hukum hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Melalui “hamba-hamba” hukum yang bisa mereka ajak untuk berselingkuh dan kongkalingkong, mereka bisa dengan mudah melakukan rekayasa kasus agar perilaku korup dan jahat yang mereka lakukan tak tersentuh oleh hukum. Sebaliknya, rakyat kecil yang tak berdaya bisa dengan mudah diperdayai dan dijebloskan ke penjara hanya karena maling coklat, kapuk randu, atau semangka, yang hanya sekadar dijadikan sebagai alat pengganjal perut. Akumulasi kekecewaan dan rasa tidak puas terhadap karakteristik kekuasaan yang semacam itu, disadari atau tidak, telah menumbuhkan semangat kolektif untuk melakukan “perlawanan” dengan melakukan aksi-aksi jalanan yang tak jarang menimbulkan situasi chaos dan berdarah-darah.
Di tengah situasi masyarakat yang chaos dan berdarah-darah semacam itu, pendidikan yang menjadi basis dan kawah candradimuka peradaban, jelas menghadapi tantangan yang makin rumit dan kompleks. Dunia pendidikan tak hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa didik, tetapi juga harus mampu menjalankan peran dan fungsinya untuk menaburkan, menanamkan, menyuburkan, dan sekaligus mengakarkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti, sehingga keluaran pendidikan benar-benar menjadi sosok yang “utuh” dan “paripurna”; menjadi pribadi yang berkarakter jujur, rendah hati, dan responsif terhadap persoalan-persoalan kebangsaan.
Setidaknya, ada tiga hal penting dan mendasar yang perlu segera diagendakan agar pendidikan karakter benar-benar bisa diimplementasikan ke dalam institusi pendidikan kita. Pertama, membangun keteladanan elite bangsa. Sudah bertahun-tahun lamanya, semenjak rezim Orba berkuasa, negeri ini telah kehilangan sosok negarawan yang bisa menjadi teladan dan anutan sosial dalam perilaku hidup sehari-hari. Kaum elite kita, diakui atau tidak, hanya pintar ngomong di atas mimbar pidato, tetapi implementasi tindakannya ibarat “jauh panggang dari api”. Mereka ngomong “berantas korupsi dan mafia hukum”, tetapi realitas yang terjadi justru proses pembiaran terhadap perilaku-perilaku jahat dan korup. Mereka berteriak “membela wong cilik”, tetapi kenyataan yang terjadi justru peminggiran peran dan penggusuran rakyat kecil di mana-mana. Insitusi pendidikan tak akan banyak maknanya apabila kaum elite kita hanya berada “di atas menara gading kekuasaan”, miskin keteladanan, dan hanya sibuk bermain akrobat untuk mempertahankan kekuasaan semata.
Kedua, memberdayakan guru. Secara jujur harus diakui, profesi guru, semenjak disahkannya UU Guru dan Dosen, menjadi lebih “bergengsi” dan bermartabat. Setidak-tidaknya, guru yang dinyatakan sudah lulus sertifikasi sudah bisa menikmati tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Namun, sesungguhnya bukan hanya semata-mata tingkat kesejahteraan yang dibutuhkan guru, melainkan juga pemberdayaan dari ranah kompetensi yang selama ini masih menyisakan tanda tanya. Empat kompetensi –profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial– yang menjadi syarat wajib bagi guru profesional belum sepenuhnya bisa diimplementasikan dalam perilaku dan kinerja guru sehari-hari. Belum lagi persoalan perlindungan dan advokasi terhadap kinerja guru yang dianggap masih lemah, sehingga guru belum sepenuhnya mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Yang tidak kalah penting, guru juga perlu terus diberdayakan dalam soal pengembangan pendidikan karakter lintas-mata pelajaran. Artinya, pendidikan karakter bukan hanya semata-mata menjadi tanggung jawab guru PKn atau Agama saja, melainkan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kinerja guru secara menyeluruh dan terpadu.
Ketiga, dukungan lingkungan sosial, kultural, dan religi terhadap keberlangsungan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Di tengah situasi peradaban yang makin abai terhadap nilai-nilai akhlak dan budi pekerti, institusi pendidikan tak bisa sepenuhnya “otonom” dan berjalan sendiri tanpa “intervensi” lingkungan. Segenap elemen bangsa, mulai tokoh masyarakat, agama, hingga media, perlu memberikan dukungan penuh dan optimal terhadap implementasi pendidikan karakter. Media televisi yang selama ini telah menjadi “tuhan” baru di kalangan anak-anak dan remaja perlu menjalankan fungsinya sebagai pencerah peradaban dengan memberikan suguhan dan tayangan yang edukatif. Jangan sampai anak-anak yang tengah “memburu jati diri” dicekoki dengan tayangan sinetron mistik atau entertaintment yang serba glamor, hingga membuat anak-anak bangsa di negeri ini makin kehilangan pegangan dan basis pendidikan karakter dalam hidup dan kehidupannya.
Nah, selamat memeringati Hardiknas 2010, semoga pendidikan karakter yang menjadi tema dan narasi besar tahun ini tak hanya mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka! ***

PSIKOLOGI KONTEMPORER: PSIKOLOGI ISLAMI OLEH: DRS. ARIF WIBISONO ADI, MM

ZEITGEIST (SEMANGAT JAMAN) AKHIR ABAD 20 – AWAL ABAD 21
Post Modernisme yang timbul pada akhir abad 20 menimbulkan semangat Dekonstruksi (pembongkaran pemikiran) pada kemapanan yang menganggap Dunia Barat sebagai satu-satunya peradaban yang memonopoli kebenaran, termasuk di bidang ilmu. Timbullah kemudian pandangan-pandangan alternatif, yang berbeda dengan yang dianut oleh Barat. Pandangan hidup, budaya, agama yang sama sekali lain dengan yang berkembang di Barat mulai dihargai eksistensinya.
Selain itu semangat Globalisasi mulai meluas pula. Timbullah pandangan-pandangan yang bersifat Multikulturalisme. Budaya yang bermacam ragam pun diakui keberadaannya dan dihargai hak hidupnya.
Di kalangan umat Islam, setelah memasuki abad XV Hijriyah, mulai timbul pula semangat Kebangkitan Islam. Mereka mulai sadar, mereka tidak dapat terus menerus hanya sebagai buntutnya Barat. Setelah merdeka dari penjajahan militer, mereka pun ingin pula merdeka dari penjajahan di bidang-bidang yang lain, termasuk di bidang ilmu. Apalagi mulai timbul kesadaran di kalangan ilmuwan Islam, ternyata di bidang ilmu, Islam justru pernah mengalami kejayaannya, punya warisan yang cukup kaya, dan Barat justru pernah belajar dari Dunia Islam.
Maka ilmuwan Islam mulai kritis terhadap ilmu yang berkembang di Barat dan mulai menyadari kekurangan dan kelemahannya. Timbullah upaya untuk mengembangkan ilmu yang sesuai dengan pandangan hidup dan budaya Islam.
Dalam psikologi yang menjadikan jiwa atau perilaku manusia sebagai objek kajiannya, mulai timbul semangat untuk membangun psikologi yang didasarkan pada konsep manusia menurut Islam, bukan didasarkan pada konsep manusia menurut pandangan Barat.
Maka pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini berkembanglah Psikologi yang berwawasan Islam yang disebut: Psikologi Islami, tapi ada pula yang menyebutnya Psikologi Islam, Psikologi Profetik, Psikologi Qur’ani, Psikologi Ilahiah dan seterusnya.



LATAR BELAKANG PERLU DIKEMBANGKANNYA PSIKOLOGI ISLAMI
Setiap komunitas yang mengambil oper ilmu dari komunitas lain, akan selalu melakukan “Naturalisasi Ilmu” (Kartanegara, 2003, h. 111), suatu proses akulturasi dari sebuah ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku di ranah baru. Oleh karena itu, naturalisasi bisa dipakai dalam arti “mempribumikan” ilmu asing sehingga cocok dengan nilai-nilai budaya atau pandangan keagamaan sebuah negeri atau peradaban. Naturalisasi Ilmu terjadi di mana saja dan kapan saja di sepanjang sejarah perkembangan ilmu. Misalnya, ketika peradaban Mesopotamia menerima pelbagai corak budaya (bahkan agama) dari wilayah-wilayah di sekitarnya, di sana terjadi proses asimilasi dan akulturasi yang pada akhirnya menimbulkan corak budaya dan peradaban Mesopotamia yang khas.
Ketika dunia Islam mengalami kejayaannya, mereka melakukan naturalisasi ilmu dari ilmu-ilmu yang diambilnya dari Yunani, Cina, India, Mesir Kuno dan lain-lain. Inilah Islamisasi Ilmu tahap pertama.
Ketika dunia Barat yang waktu itu sedang mengalami “The Dark Ages” mengambil ilmu dari dunia terjadi akibat pemisahabnWesternisasi Ilmu yang hasilnya berupa Sekulerisasi Ilmu, karena pada waktu itu sedang terjadi konflik antara tokoh-tokoh ilmuwannya dengan tokoh-tokoh gereja (kasus Galileo Galilei), sehingga mereka memisahkan ilmu dari agama, tokoh ilmuwan urusi ilmu dan tokoh gereja urusi agama.
Saat ini umat Islam yag mengambil ilmu dari Barat, sesungguhnya perlu pula melakukan naturalisasi Ilmu, yaitu menyesuaikan ilmu yang diambilnya itu dengan wawasan dan pandangan hidup Islam. Inilah Islamisasi Ilmu tahap kedua. Dalam bidang psikologi, berkembanglah Psikologi Islami.
Selain itu, ilmu sekuler Barat yang sekarang mendominasi dunia sesungguhnya mulai dirasakan kelemahan dan kekurangannya. Banyak kritik-kritik kaum ilmuwan dilancarkan terhadap ilmu sekuler Barat ini, bahkan dari kalangan orang Barat sendiri (seperti Fritjof Capra, Thomas Kuhn dan lain-lain). Banyak terjadinya krisis-krisis global diyakini akibat penerapan ilmu yang sekuler ini, yang dikatakan bebas nilai, pragmatis, materialistis dan individualis saja, yang cenderung untuk kepentingan kelompok manusia sesaat saja tanpa memperhaitkan kepentingan global alam semssta, dan nilai-nilai ilahiah dicampakkan begitu saja. Seolah timbullah kemudian suatu Budaya Inderawi.
Psikolog Islam yang mempelajari Psikologi Barat yang sekuler mula-mula terpesona, kemudian menjadi sadar, dengan mengambil oper ajaran-ajaran psikologi Barat tanpa kritik, atau menelan bulat-bulat konsep-konsepnya, akhirnya akan menimbulkan kepribadian yang terpecah atau “Split Personality” . Hal ini a

MAZHAB KEEMPAT DALAM PSIKOLOGI PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Oleh: Drs. Arif Wibisono Adi, MM

ZEITGEIST (SEMANGAT JAMAN) YANG MELAHIRKAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Akhir abad 20 semangat Post Modernisme mulai meluas di kalangan ilmuwan, sehingga berkembanglah sikap Dekonstruksi atau pembongkaran kemapanan, terhadap pandangan-pandangan yang selama ini diyakini oleh Dunia Barat. Masalah-masalah yang dulu dianggap sebagai di luar lingkup ilmu mulai diperhatikan dan dipelajari, termasuk masalah-masalah spiritual dan hal-hal yang non-inderawi. Agama dan budaya-budaya yang berkembang di luar Dunia Barat pun mulai diperhatikan dan diakui eksistensinya.

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL.
Pada sekitar tahun 1960-an, sehabis Perang Dunia Kedua, kehidupan orang-orang di Amerika Serikat banyak yang mengalami kekosongan. Mereka mencari-cari pengalaman-pengalaman yang baru dan mendapatkan makna hidup yang baru. Perubahan-perubahan zaman menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Banyak dari mereka kemudian lari ke obat-obat dan narkoba. Yang menimbulkan keheranan mereka, dengan mengkonsumsi obat dan narkoba itu, mereka dapat menghayati suatu “dunia lain” dan mendapatkan kesadaran yang berubah. Tapi efek samping dari obat dan narkoba itu mulai dirasakan, banyak yang kecanduan, rusak otak dan levernya. Kemudian ada yang mencoba-coba dengan menjalankan ritual - ritual agama Buddha dan Hindu seperti Meditasi dan Yoga, dan ternyata mereka dapat menghayati dunia lain dan kesadaran yang berubah seperti ketika mengkonsumsi obat dan narkoba, bahkan tanpa efek samping yang merusak. Maka meluaslah orang-orang yang menjalankan amal-amal agama Timur tersebut. Para psikolog pun mulai mempelajari perubahan perilaku dan kepribadian orang-orang yang menjalankan kegiatan agama Timur tersebut. Maka timbullah aliran psikologi yang disebut Psikologi Timur di Barat.
Ken Wilber yang mempelajari kesadaran yang berubah dan bertingkat-tingkat itu kemudian menguraikan adanya tiga tingkat kesadaran dalam tulisannya mengenai Spektrum Kesadaran: Prepersonal, Personal dan Transpersonal. Yang dimaksud Transpersonal yaitu di atas atau melampaui yang personal. Maka kemudian Psikologi Timur di Barat yang terutama mempelajari kesadaran yang tingkat tinggi itu kemudian disebut Psikologi Transpersonal

APA YANG DIMAKSUD PSIKOLOGI TRANSPERSONAL
Psikologi Transjpersonal dapat dipahami sebagai penggabungan antara tradisi kebijaksanaan dunia spiritual dengan kajian psikologi modern. Keduanya ingin mencari jawaban atas pertanyaan manusia yang fundamental: “Siapakah aku ?”
Tradisi dunia spiritual menatap kedalaman dan menjawab: “Suatu keberadaan spiritual, suatu ruh (soul), “ dan praktik-praktik agama ingin menghubungkan diri manusia dengan identitas yang lebih dalam di dalam dirinya. Sedangkan psikologi modern menjawab: “Suatu keakuan, Ego, eksistensi psikologis (self) dan psikoterapi berusaha untuk menelusuri ke arah perbaikan, kesehatan dan pertumbuhan dari keakuan ini.
Psikologi Transpersonal ingin menciptakan sintesis dari kedua jawaban di atas (Cortright, 1997). Psikologi Transpersonal mempelajari bagaimana yang spiritual diekspresikan di dalam dan melalui yang personal atau transendensi dari keakuan.
Vaughan, Wittine, dan Walsh (Rakhmat, 2003) menyebutkan empat asumsi dasar psikologi transpersonal:
1). Psikologi transpersonal adalah pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spektrum identitas – prapersonal, personal, dan transpersonal. Tahap prapersonal dimulai dalam rahim sampai usia 3-4 tahun. Pada tahap ini, kesadaran didorong oleh keinginan untuk bertahan hidup, memperoleh perlindungan, dan merasa terikat. Tahap personal meliputi kesadaran diri (sense of self) yang kohesif dan stabil. Pada tahap transpersonal, individu menjadi person yang menyadari kerinduannya akan pengetahuan diri yang lebih mendalam.
2). Psikologi transpersonal adalah “mengakui terurainya kesadaran diri terapis serta pandangan-dunia spiritualnya sebagai hal yang utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi”. Asumsi ini merupakan ciri khas psikologi transpersonal yang mengharuskan terapis untuk memberikan komitmen pada orientasi spiritualnya terhadap kehidupan.
3). Psikologi transpersonal adalah proses “kebangkitan (pencerahan, awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar”. Psikologi transpersonal menganggap bahwa apa yang disebut Grof dan Grof sebagai spiritual emergency adalah proses spiritual yang akan mengantarkan orang kepada pertumbuhan yang lebih besar dan fungsi yang lebih tinggi.
4). Psikologi Transpersonal “membantu proses kebangkitan (pencerahan, awakening) dengan menggunakan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri“. Kearifan dan intuisi dibina dan dikembangkan melalui teknik-teknik, seperti meditasi, pencitraan, mimpi, dan altered state of consciousness. Psikologi transpersonal mengantarkan apa yang sekarang lazim disebut sebagai intervensi spiritual dalam psikoterapi,seperti doa, zikir, pertobatan, dan ritus-ritus keagamaan lainnya. Sampai di sini, integrasi psikologi dan agama mencapai bentuk barunya. Seperi tempo dulu, psikolog kini harus juga mengerti agama. Dan agamawan harus belajar dan mengambil manfaat dari psikologi.
Tahun 1969, Association of Transersonal Psychology untuk pertama kalinya menerbitkan The Journal of Transpersonal Psychology untuk memperkenalkan aliran ini kepada khalayak ramai (Nawawi et al, 2000). Dalam nomor perdana itu, Anthony Sutich salah seorang pencetus psikologi transpersonal di samping Maslow, memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Psikologi transpersonal adalah nama yang diberikan kepada kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh sejumlah psikolog, ahli-ahli pria dan wanita dari bidang lain yang punya perhatian terhadap kemampuan-kemampuan dan kesanggupan-kesanggupan tertinggi manusia yang selama ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi perilaku atau teori-teori psikoanalisa yang klasik maupun oleh psikologi humanistik. Psikologi transpersonal secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang empiris dan kepada implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan yang relevan bagi pengaktualisasian diri, transendensi diri, kesadaran kosmis, fenomena-fenomena transendental yang terjadi pada (atau dialami oleh) perorangan-perorangan dan sebagainya”.
Setelah menelaah lebih dari 40 ragam definisi tentang psikologi transpersonal dalam kurun waktu 23 tahun, mengenai aliran ini, sebuah rumusan yang disusun oleh S.I. Shapiro & Denise H. Lajoie, kiranya cukup memberikan gambaran mengenai apa yang ditelaah psikologi transpersonal:
“Transpersonal psychology is concerned with the study of humanity’s highest potential, and with the recognation, understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness”. (Psikologi transpersonal mempunyai perhatian terhadap studi potensial tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan, spiritual dan transenden).

ASUMSI-ASUMSI DASAR PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Beberapa asumsi dasar psikologi transpersonal yaitu:
1). Hakekat keberadaan manusia itu spiritual.
2). Kesadaran bersifat multidimensional. Kesadaran yang normal dan biasa pada kebanyakan orang itu hanyalah bagian paling luar dari kesadaran. Masih ada tingkat-tingkat kesadaran yang lebih dalam lainnya.
3). Manusia mempunyai dorongan yang wajar ke arah perjuangan spiritual yang diekspresikan sebagai pencarian akan “wholeness” melalui kesadaran individual, sosial dan transendental.
4). Bersentuhan dengan sumber yang lebih dalam dari Kebijaksanaan dan Tuntunan di dalam diri manusia, memungkinkan dan membantu ke arah pertumbuhannya.
5). Menyatukan kehendak kesadaran seseorang dengan aspirasi dorongan spiritual merupakan superordinat dari nilai kesehatan.
6). ASC (altered states of consciousness) merupakan suatu cara untuk mengakses pengalaman transpersonal dan dapat menjadi suatu bantuan untuk penyembuhan dan pertumbuhan.
7). Kehidupan dan perbuatan manusia sarat dengan makna. Membuka psyche manusia ke arah transformasi merupakan landasan spiritual bagi pengobatan.
8). Konteks transpersonal menentukan bagaimana klien itu dipandang. Pendekatan transpersonal (sesuai dengan kaum humanis) memandang klien, seperti juga terapisnya, sebagai seseorang yang selalu tumbuh berkembang dan selalu mencari kawan. Hubungan klien dengan terapis menjadi lebih berpusat pada hati (heart-centered) dalam praktik psikoterapinya. (Cortright, 1997)
Psikologi transpersonal menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia yang ternyata mengandung berbagai potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi kontemporer, terutama psikoanalisis dan psikologi perilaku. Bahkan dengan psikologi humanistik yang juga mengakui dan menaruh perhatian pada dimensi spiritual manusia ada bedanya, yakni psikologi humanistik lebih memanfaatkan potensi-potensi ini untukl peningkatan hubungan antarmanusia, sedangkan psikologi transpersonal lebih tertarik untuk meneliti pengalaman subyektif-transendental, serta pengalaman luar biasa dari potensi spiritual ini (Nawawi et

Senin, 14 Maret 2011

Mana yang lebih tepat, tes individual atau tes kelompok?

Tes intelegensi individu yang paling terkenal adalah Skala Stanford-Binet. Alfred Binet bekerja sama dengan mahasiswanya, Theodore Simon untuk membuat instrumen pengukur intelegensi dengan skala pengukuran level umum dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes, yaitu penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan memori jangka pendek pada soal- soal mengenai kehidupan sehari- hari. Skala Stanford-Binet dikenakan secara individual dan soal-soalnya diberikan secara lisan oleh pemberi tes. Oleh karena itu pemberi tes haruslah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup di bidang psikologi, sangat terlatih dalam penyajian tesnya, dan mengenal betul isi berbagai tes dalam skala tersebut.Skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, karena level tersebut merupakan level intelektual dan dimaksudkan hanya sebagai batas-batas usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak. 
Tes intelegensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence Tests, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests. Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis dibandingkan dengan tes individual, namun juga ada kekurangannya. Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar, peneliti tak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dan sebagainya. Dalam situasi tes kelompok besar, murid mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu \oleh murid lainnya. Karena keterbatasan ini, maka saat akan dibuat keputusan penting menyangkut kemampuan murid, tes intelegensi kelompok harus dilengkapi dengan informasi lain tentang kemampuan murid. Strategi yang sama juga berlaku untuk tes individual, meskipun biasanya kita lebih baik tidak terlalu yakin pada akurasi skor tes intelegensi kelompok. Banyak murid yang mengikuti tes dalam kelompok besar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan murid dalam kelas khusus anak penderita retardasi mental, kelas pendidikan khusus, atau kelas anak berbakat, sebaiknya tidak didasarkan pada tes kelompok saja. Dalam kasus seperti itu, informasi relevan tentang kemampuan murid harus diperoleh dengan cara selain menggunakan tes.          Jadi, tes intelegensi individual lebih tepat dibandingkan dengan tes intelegensi kelompok walaupun tes intelegensi individual memiliki kelemahan.

Daftar Pustaka:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta 

Di bawah ini, situs lebih lanjut tentang tes intelegensi dan sejarahnya:

Minggu, 13 Maret 2011

Testimoni terhadap perkuliahan 8 Maret 2011 dan Pandangan tentang materi yang disampaikan


Perkuliahan Psikologi Pendidikan ke- 7 tentang  “Proses kognitif, motivasi dan tujuan instruksional”
Di awal pertemuan, bu dina memperkenalkan kepada kami tentang Johari Window atau sering disebut dengan Jendela Johari, yaitu merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita seseorang. Model ini diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 yang berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
 Kemudian bu dina memberi konstruksi agar masing – masing dari kami berkumpul dengan teman sekelompok dan masing – masing dari kami menilai sifat – sifat teman sekelompok kami, kemudian dihubungkan dengan teori – teori yang ada di buku Santrock.
Disini, saya menghubungkan teori kognitif Vygotsky. Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygtsky: (1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara development, (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi dengan alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental, dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.  
Menurut saya, menggunakan pendekatan developmental berarti melihat sifat pada awal bertemu yang kemudian ada sifat – sifat lain yang berkembang setelah lama berteman bersama.            
Klaim kedua, yakni melihat dari bahasanya, cara berbicara dan kata – kata yang digunakan. Sifat- sifat seseorang bisa dinilai dari cara mereka mereka berbicara, kata – kata dan bahasa yang mereka gunakan.          
Dan yang ketiga, bahwa sifat – sifat seseorang berasal dari  relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dari sosialisasi yang dilakukan seseorang kita bias melihat bagaimana sifatnya, apakah seorang yang tertutup atau terbuka di lingkungan dan sifat seseorang itu dipengaruhi juga oleh latar belakang sosiokultural ataupun dari budayanya. Budaya di rumah dan suku atau keturunan akan terbawa ke dalam sifat seseorang. Dan sifat seseorang dapat mencerminkan budaya orang itu pula.

Daftar Pustaka:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta  

Jumat, 11 Maret 2011