By. Soleh Amini Yahman
………….dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa
mereka……………………(QS. An-Nisa’ : 63) Pendahuluan Dalam konsep ilmu psikologi, proses tumbuh kembang anak adalah merupakan suatu proses yang selalu terkait dengan masalah “belajar”. Artinya anak akan menjadi apa atau menjadi seperti apa, sangat tergantung pada bagaimana Ia belajar. Anak Belajar Dari Kehidupannya
========== Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar menjadi rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar untuk menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar menjadi percaya diri Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan cinta kasih saying dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. (puisi karya : Dorothy Law Nolte) judul asli : Childern Learn What They Live
Dari Mana anak Belajar ?
Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Dari Mana anak Belajar ? Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Imitasi adalah mekanisme pembelajaran dengan cara menirukan, mencotoh dari model yang dilihat, didengar dan dipersepsikannya. Orang tua sebagai model adalah obyek yang paling dekat untuk ditiru oleh anak-anak. Oleh karena itu orang tua sebagai prime model bagi pembelajaran anak harus ektra dan super hati-hati dalam berucap, berperilaku dan bertindak di hadapan anak-anak. Ingat anak adalah imitator ulung yang tiada taranya. Dengan kata lain, dalam proses tumbuh kembang anak orang tua harus mampu menjadi uswah khasanah (suri tauladan) bagi putra-putrinya. Identifikasi adalah mekanisme psikologis, dimana seseorang (terutama anak-anak) mencoba membentuk identitas dirinya dengan cara mengadopsi secara total figure-figur idialnya (idola) untuk dijadikan identitasnya. Ketika anak mengidolakan orang tua sebagai tokoh super yang dikaguminya maka hal ini menjadi modal yang sangat positip bagi orang tuanya untuk membawa kehidupan masa depan anak-anaknya kepada alur kehidupan yang idial sebagaimana yang diingnkan orang tua. Namun sejalan dengan perkembangan usia seseorang (anak) dan banyaknya rangsang-rangsang social di sekitar kehidupan anak, maka anakpun tidak lagi menjadikan orang tua (ayah/ibu) sebagai tokoh idolanya. Anak mulai menemukan idialitas lain yang lebih sesuai dengan hasrat perkembangan sosialnya. Anak menemukan tokoh idialitasnya dari televisi, bacaan, iklan, internet, sinetron, film yang belum tentu sesuai dengan nilai cultural, agama dan konsep pendidikan kita. Jika hal ini telah mulai terjadi pada anak-anak, maka hak orang tua adalah melakukan”filterisasi” dan intervensi secukupnya untuk mengarahkan agar anak-anak tidak terperosok pada pemilihan idola yang salah. Namun demikian orang tua tidak berhak untuk mencegah atau melarang anak menemukan idialitas dan identitasnya yang ia pungut dari kehidupan di sekitarnya. Dengan Cinta Kita Bicara Cinta adalah bahasa yang paling universal dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Sebab cinta merupakan amunisi jiwa yang sangat dahsyat yang mampu mengalahkan kedahsyatan topan tornado maupun ganasnya luapan lahar gunung merapi. Atas nama cinta, banyak orang (ibu) yang rela berkorban demi kemuliaan hidup anak-anaknya. Apakah Cinta ? Dalam perspektif psikologi, cinta diidentifikasikan sebagai energi kehidupan positif yang bersifat afektif (emosi) . Energi cinta akan membawa seseorang pada perilaku yang positip, karena dalam cinta tersebut terkandung unsur-unsur positip seperti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kejujuran, kepercayaan dan kesunguh-sungguhan. Ketika energi cinta ini diimplemetasikan dalam mendidik anak-anak, maka orang tua harus berlaku ikhlas (lahir dan bathin), sabar dan penuh kasih sayang. Kasih sayang dalam kontek ini tidak berarti harus selalu memberi atau menuruti semua kehendak anak, tetapi mempertegas sikap untuk memberi pelajaran pada anak bahwa tidak setiap keinginan atau kehendak itu harus terpenuhi. Ketegasan tidak sama dengan kekerasan !! Dunia anak-anak jauh sangat berbeda dengan dunianya orang tua/dewasa. Banyak hal yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara keduanya. Kenyataan ini sering membuat orang tua tidak sabar dan tidak tabah dalam mengsuh/mendidik putra-putrinya. Ketidaksabaran dan ketidaktabahan ini menimbulkan konflik yang sering memicu timbulnya kemarahan, sehingga cinta yang semestinya menjadi energi positif berubah menjadi energi destruktif yang merusak sendi-sendi harmoni cinta antara orang tua dan anak-anaknya. Oleh karena itu memelihara cinta sebagai amunisi jiwa adalah merupakan kata kunci untuk membangun kejujuran, kepercayaan dan kesungguhan dalam “gerakan” mendidik dan mengasuh anak-anak tercinta. Bagaimana Memelihara Cinta ? Sebagaimana sebuah tanaman, Cinta juga memerlukan pemeliharan yang baik agar tumbuh subur, berbunga indah dan berbuah lebat. Tanaman perlu dipupuk dengan pupuk organic untuk menjaga kesuburannya, maka cinta juga perlu disuburkan dengan pupuk-pupuk rohaniah. Diantara pupuk yang paling mujarap untuk menjaga kesuburan cinta adalah menumbuhkan rasa saling mengerti. Orang tua harus mencoba belajar memahami dunia anak-anak. Anak-anak bukan merupakan manusia dewasa dalam bentuk mini. Artinya jangan memeperlakukan anak-anak seperti kita memeperlakukan orang dewasa. Anak mempunyai dunianya yang khas, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Dunia anak-anak adalah berekplorasi, berekperimen mencari tahu dan menemukan sesuatu yang sesuai dengan frame of reference mereka yang masih sangat simple. Bermain bagi seorang anak adalah aktivitas ‘pencarian’ untuk menemukan apa yang sedang ia cari. Sedangkan bermain bagi orang dewasa adalah refressing untuk menyegarkan jiwa raga setelah bergelut dengan padatnya pekerjaan. Dunia orang dewasa adalah dunia bekerja, dunia tanggung jawab yang menuntut kerja keras dan nilai-nilai pertanggungjawaban. Disinilah salah satu konsep yang harus dimengerti orang tua dari dunia anak-anaknya. Pengertian ini akan menjadi pupuk yang sangat bagus bagi tumbuh suburnya cinta bila orang tua mau memahaminya. Dengan pemahaman tersebut maka manajement konflik yang muncul dari hubungan anak dengan orang tuanya dapat ditatalaksanakan dengan sehat. Pupuk lainnya adalah kesadaran diri bahwa “saya adalah orang tua mereka dan mereka adalah anak-anak saya”. Kesadaran ini akan membawa orang tua untuk “tahu diri” dan mampu mengendalikan ego secara baik. Kesadaran diri dan pengendalian ego yang baik ini akan berimplikasi pada terbentuknya keseimbangan antara emosi dan kesadaran orang tua atas tugas dan tangung jawab pengasuhan terhadap anak-anaknya. Pupuk lainnya lagi bagi suburnya cinta adalah kesediaan untuk selalu bersama dalam duka dan suka. Memperbanyak waktu bersama keluarga di sela-sela kesibukan bekerja, merupakan energi yang luar biasa untuk memupuk cinta. Kebersamaan akan menciptakan pemahaman dan menumbuhkan pengenalan yang lebih baik antara satu anggota keluarga dan anggota lainnya. Kebersamaan juga akan menumbuhkan empati dan kerja sama. Dimana semua itu akan bermuara pada terbentuknya rasa ukhuwah atau persaudaraan yang lebih kuat dan lebih baik. Persaudaraan yang kokoh adalah muara akhir dari energi cinta. Kesuburan cinta harus pula ditingkatkan dengan doa. Ketulusan dan keikhlasan doa merupakan jembatan bagi manusia untuk membentuk kehidupan jiwa yang khusuk, jiwa yang tawadu’, konaa’ah dan istiqomah , dimana semua itu akan menuntun terwujutnya perilaku yang halus sebagai wujut kematangan jiwa. Doa adalah intinya ibadah, di dalam doa termuat muatan cinta yang tidak terbatas. Maka berdoalah anda maka anda akan menjadi orang kaya dengan cinta. Doa akan menuntun manusia untuk mengakui bahwa dirinya adalah doif, lemah dan penuh ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan inilah yang mendorong manusia untuk bersama membangun kekuatan yang namanya Cinta. Antara Ketegasan dan Kekerasan Tidak ada satupun alasan pembenar yang dapat membenarkan tindak kekerasan pada anak untuk sebuah metode pendidikan. Kekerasan akan meninggalkan dendam dan kebencian. Yang dianjurkan adalah menggunakan pendekatan ketegasan. Tegas berarti aseritif, yaitu membiasakan disiplin untuk melatih bertanggungjawab. Ketegasan memang sering berimplikasi pada suatu suasana yang tidak menyenangkan bagi anak-anak. Namun selama ketegasan itu kita komunikasikan secara terbuka (tidak didasari oleh ego kekuasaan sebagai orang tua), maka lambat laun anak akan mengerti mengapa saya “dipaksa” bigini atau begitu” oleh ayah/ibu saya. Oleh karena itu konsep ketegasan ini harus selalu diiringi dengan pemberlakuan prinsip reward and punishment. Dengan demikian ketegasan tidak meninggalkan jejak dendam dan kebencian, sebaliknya meninggalkan kesan tentang perlunya tanggungjawab dan kedisiplinan. Cinta memang butuh ketegasan. Love your child forever, so they make be you understanding. Love is miracle !! Love is power and love is future ! Thanks You.
Tampilkan postingan dengan label psikologi anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi anak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Maret 2011
Kamis, 17 Juni 2010
Tips Agar si Kecil Mau Mendengarkan Orangtua
Vera Farah Bararah - detikHealth
Anak-anak seringkali tak mau mendengarkan apa yang orangtua bilang padanya. Tidak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengarkan.
Sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtuanya karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.
"Karena itu tak terlalu dini untuk mulai mengajarkan anak agar mau mendengarkan orangtuanya, karena anak masih dalam tahap perkembangan sehingga banyak keterampilan yang dimilikinya," ujar Roni Leiderman dari Family Center, Nova Southeastern University di Fort Lauderdale, Florida, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (18/6/2010).
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:
Usahakan untuk mendekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak misalnya berjongkok atau agak menunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.
Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya "Sudah waktunya untuk masuk ke mobil," akan berdampak lebih besar dibandingkan, "Ayo naik ke kursi mobil, sayang?".
Perkuat pesan dengan sering mengulanginya
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.
Memberikan peringatan
Orangtua bisa memberikan beberapa pemberitahuan terlebih dahulu pada anak sebelum menginginkan perubahan yang besar, terutama jika anak sudah terlihat menikmati kebiasaan tertentu. Peringatan yang diberikan sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang positif dan lembut.
Memotivasi dengan baik
Memberitahu anak dengan berteriak mungkin bisa memberikan hasil, tapi tidak ada yang menikmati proses ini. Sebagian besar anak akan merespons baik ketika orangtua memperlakukannya dengan cara humor, misalnya membuat suara-suara konyol atau menyampaikan pesan sambil bernyanyi. Humor yang baik, kasih sayang dan kepercayaan yang orangtua tunjukkan saat berbicara akan membuat anak mau mendengarkannya.
Jadilah model perilaku yang baik untuk anak
Seorang anak akan meniru tingkah laku dan perkataan dari orang-orang disekitarnya. Karena itu berikan perilaku dan tutur kata yang baik saat berhubungan dengan siapapun, hal ini akan dilihat oleh anak dan membuat anak berpikir bahwa perilaku seperti itulah yang harus dilakukannya.
(ver/up)
Anak-anak seringkali tak mau mendengarkan apa yang orangtua bilang padanya. Tidak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengarkan.
Sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtuanya karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.
"Karena itu tak terlalu dini untuk mulai mengajarkan anak agar mau mendengarkan orangtuanya, karena anak masih dalam tahap perkembangan sehingga banyak keterampilan yang dimilikinya," ujar Roni Leiderman dari Family Center, Nova Southeastern University di Fort Lauderdale, Florida, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (18/6/2010).
Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:
Usahakan untuk mendekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak misalnya berjongkok atau agak menunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.
Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya "Sudah waktunya untuk masuk ke mobil," akan berdampak lebih besar dibandingkan, "Ayo naik ke kursi mobil, sayang?".
Perkuat pesan dengan sering mengulanginya
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.
Memberikan peringatan
Orangtua bisa memberikan beberapa pemberitahuan terlebih dahulu pada anak sebelum menginginkan perubahan yang besar, terutama jika anak sudah terlihat menikmati kebiasaan tertentu. Peringatan yang diberikan sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang positif dan lembut.
Memotivasi dengan baik
Memberitahu anak dengan berteriak mungkin bisa memberikan hasil, tapi tidak ada yang menikmati proses ini. Sebagian besar anak akan merespons baik ketika orangtua memperlakukannya dengan cara humor, misalnya membuat suara-suara konyol atau menyampaikan pesan sambil bernyanyi. Humor yang baik, kasih sayang dan kepercayaan yang orangtua tunjukkan saat berbicara akan membuat anak mau mendengarkannya.
Jadilah model perilaku yang baik untuk anak
Seorang anak akan meniru tingkah laku dan perkataan dari orang-orang disekitarnya. Karena itu berikan perilaku dan tutur kata yang baik saat berhubungan dengan siapapun, hal ini akan dilihat oleh anak dan membuat anak berpikir bahwa perilaku seperti itulah yang harus dilakukannya.
(ver/up)
Minggu, 30 Mei 2010
Child Growth and Developmental ( Pertumbuhan dan Perkembangan anak)

Drs, Soleh Amini Yahman . M.Si
Sejak berabad-abad yang lalu perhatian terhadap seluk beluk kehidupan anak sudah diperlihatkan, sedikitnya dari sudut perkembangan dan pertumbuhannya agar bisa mempengaruhi kehidupan anak kearah kesejahteraan yang diharapkan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik yang bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung atau menimbulkan masalah pada orang lain, pada keluarga atau masyarakatnya (Singgih, 1981).
Pengertian Perkembangan dan Pertumbuhan
Pengertian perkembangan menujuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna. Proses perkembangan merupakan suatu perubahan ke arah yang lebih maju, dimana perubahan tersebut sifatnya menetap dan tidak dapat diputar kembali (Werner, 1969). Jadi istilah perkembangan lebih mencerminkan sifat khas mengeni gejala psikologis yang muncul. Sedangkan pengertian “pertumbuhan” lebih menujuk pada bertambahnya ukuran badan dan fungsi fisik yang lebih baik dan sempurna. Dalam hubunganya dengan perkembangan anak, faktor pertumbuhan fisik sangat besar sekali pengaruhnya. Sehingga dalam kajian psikologi perkembangan dan psikologi anak, istilah perkembangan dan pertumbuhan ini selalu digunakan secara bersama-sama, karena kedua istilah tersebut bersifat interaksionistis. artinya faktor perkembangan mempengaruhi faktor pertumbuhan, dan sebaliknya faktor pertumbuhan juga sangat mempengaruhi perkembangan. Misalnya bertambahnya fungsi otak akan mempengaruhi atau memungkinkan anak dapat tertawa, berjalan, berbicara, berjalan, berlari dan sebagainya. Dengan demikian kedua proses tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam bentuk yang murni berdiri sendiri-sendiri.
Pertumbuhan
Pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam passage (peredaran waktu) tertentu. Dengan demikian pertumbuhan dapat diartikan pula sebagai proses tranmisi konstitusi fisik yang bersifat herediter/turun temurun dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.
Hasil pertumbuhan antara lain berwujut bertambah panjangnya badan anak, tubuh bertambah berat, tulang-tulang menjadi lebih besar dan kuat, perubahan dalam sitem persyarafan dan perubahan-perubahan pada struktur jasmaniah lainya. Dengan begitu, pertumbuhan bisa disebut pula sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.
Pertumbuhan jasmani berakar pada organisme yang selalu berproses untuk menjadi (the process of coming into being) . Jadi organisme merupakan sistem yang mekar secara kontinu yang selalu beroperasi atau berfungsi, juga bersifat dinamis dan tidak pernah statis secara komplit, kecuali kalau sudah mati.
Pertumbuhan jasmani ini dapat diteliti dengan mengukur 1) berat Badan, (2) panjang dan ukuran lingkaran lingkar kepala, lingkar dada, pinggul, lingkar lengan dan lain-lain.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
1. Faktor Sebelum Lahir : Kekurangan nutrisi & vitamin pada ibu dan janin, janin tekena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, terkena infeksi bakteri sypilis, terkena penyakit gabag, TBC, kholera, typus, gondok, sakit gula dan lain-lain.
2. Faktor ketika lahir : Intracranial haemorrahge atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan . Defec pada susunan syaraf pusat karena kelahiran bayi dengan bantuan tang (tangverlossing)
3. Faktor Sesudah Lahir : Pengalaman traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena bayi jatuh, infeksi pada selaput otak (cerebral miningitis, gabag, malaria tropika, dypteria , radang kuping berdarah dan lain-lain), Kekurangan gizi dan nutrisi. Semua penyebab tersebut di atas menyebabkan pertumbuhan bayi dan anak sangat terganggu.
4. Faktor Psikologis : Bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. anak-anak dititipkan pada institusinalia (rumah sakit, panti asuhan, yayasan perawatan bayi) dan lain-lain sebagainya sehingga mereka kurang sekali mendapatkan kasih sayang dan perawatan jasmaniah. anak-anaka tersebut mengalamai innanitie psikis atau kehampaan psikis, kering dari perasaan sehingga mengakibatkan retradasi/kelambatan pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. Juga ada hambatan fungsi rohaniah, terutama sekali pada perkembangan intelegensi dan emosi.
Perkembangan .
Dalam pengertian sempit perkembangan dapat diartikan sebagai proses pematangan fungsi-fungsi yang non fisik. Perkembangan tidak berlangsung secara mekanistis otomatis, sebab perkembangan tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan yaitu :
1. Faktor herediter (warisan keturunan/bawaan lahir)
2. Faktor lingkungan
3. Kematangan fungsi-fungsi organis dan fungsi-fungsi psikis
4. Aktivitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan
Dengan kata lain perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu menuju kedewasaan. Oleh karena itu perkembangan dapat pula diterjemahkan sebagai proses tranmisi dari konstitusi psiko-fisik yang herediter, dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan dalam perwujutan proses aktif menjadi secara kontinue.
Setiap fenomena/gejala perkembangan anak merupakan produk dari kerja sama dan pengaruh timbal balik antara potensialitas hereditas dengan faktor-faktor lingkungan. Jadi perkembangan itu merupakan produk dari :
1. Pertumbuhan berkat pematangan fungsi-fungsi fisik
2. Pematangan fungsi-fungsi psikis
3. usaha “belajar” oleh anak dalam mencobakan segenap potensialitas rohani dan jasmaniahnya.
II. Teori Dinamisme Perkembangan.
pakah sebenarnya daya dinamis yang mendasari perkembangan anak, sehingga anak mau aktoif berekperimen, mencobakan segenap kemampuan dan selalu mencari pengalaman baru ?
Menurut teori dorongan , segenap tingkah laku anak itu dirangsang dari dalam, yaitu oleh dorongan-dorongan dan insting-insting tertentu guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Jika kebutuhan-kebutuhan yang vital biologis maupun yang sosio kultural tersebut tidak terpenuhi, maka akan meninimbulkan ketegangan, iritasi dan frustrasi, sehingga terjadilah keadaan tidak seimbang pada dirinya (disequilibrium) . Maka motifutama dalam kehidupan manusia ialah usaha menghilangkan segenap ketegangan, iritasi dan frutrasi, guna mencapai keseimbangan/equilibrium kembali. Inilah yang mendorong semua kegiatan dan setiap perkembangan anak.
Teori Dinamisme Organisme ; mengatakan bahwa dalam organisme yang hidup ini selalu ada usaha yang positif. Organisme memiliki ‘mesin’, kapasitas dan impuls-impuls tertentu yang dipakai untuk memobilisir semua kemampuan agar berfungsi dan bisa dimanfaatklan. berasosiasi dengan pendirian tersebut, anak itu tidak hanya berusaha mempertahankan keseimbangan dirinya secara lahir bathin saja, akan tetapi justru mencari ketidakseimbangan. Dia ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, mau berekperimen dan menjajahi arena asing, guna mencobakan potensinya, dan mengtes bakat kemampuannya. sebab, dalam unsur kehidupan itu selalu ada tenaga pendorong maju untuk bergiat, berubah dan berkembang.
Memahami Dunia AnakAnak : pengasuhan dan pendidikan anak usia dini

Soleh Amini Yahman
Pendahuluan
Anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, anak adalah seorang individu dengan ciri-ciri khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu dalam mensikapi atau menghadapi perilaku seorang anak harus pula dibedakan dengan cara-cara kita dalam menghadapi orang dewasa. Anak-anak mempunyai dunianya sendiri yang khas, yang sangat berbeda atau bahkan bertentangan dengan dunia orang dewasa.
Untuk memahami hakekat diri manusia, harus dimulai dari pemahaman tentang awal mula eksistensi (keberadaan ) diri manusia itu sendiri, yaitu memahami bagaimana kehidupan dunia anak-anak. Impresi dari masa kanak-kanak sangat mempengaruhi proses pembentukan dan pengembangan kepribadian (personality Building) , karakter, social attitude, dan konsep diri (self concept). Pengalaman yang diperoleh anak pada masa kanak-kanaknya (childhood) akan menjadi dasar bagi pengembangan dan pembentuan kepribadian pada saat anak telah menjadi dewasa. Pengalaman yang pernah dialami pada masa lalu (khususnya pada masa anak-anak) pada hakekatnya masih melekat pada diri individu sekalipun individu tersebut telah dewasa.
Sampai pada tingkatan tertentu , manusia dewasa adalah merupakan produk dari pemeliharaan dan pembentukan dari pengalaman yang diperoleh pada masa kanak-kanak. Sehingga , sekalipun si anak telah menjadi dewasa , unsur-unsur kekanak-kanakan itu masih melekat pada diri individu. Sekuat apapun kita berusaha untuk melepaskan unsur anak-anak tersebut pada usia dewasa/tua, dunia anak-anak itu tetap akan memberi stempel yang jelas pada kepribadin kita sekarang. Dengan begitu masa kanak-kanak pada hakekatnya merupakan suatu bagian yang sangat esensial dari eksistensi setiap diri manusia. Oleh sebab itu pengertian dan pemahaman tentang “being” atau kehidupan anak-anak akan sangat bermanfaat bagi pemahaman tentang hakekat manusia pada umumnya , sehingga kita dapat secara adaptif dan adekwat dalam memberikan pengasuhan, bimbingan dan pendidikan kepada anak-anak .
Masa Kanak-Kanak 1 - 5 Tahun
Usia 1 tahun hingga usia 5 tahun adalah merupakan usia primer (primery old) yaitu masa dimana anak mengalami proses tumbuh kembang dengan sangat cepat. Namun dibalik dinamika pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat tersebut, usia 1 sampai 5 tahun juga sangat rentan kemungkinan terjadinya benturan-benturan piskologis maupun fisis. Sebagian ahli menyebut usia 1 – 5 tahun adalah sebagai ‘usia emas” atau the golden age., sedang sebagian ahli yang lain menempatkan usia 1 – 5 tahun sebagai usia dini.
Tindakan pengasuhan, pendidikan dan perawatan terhadap anak usia dini sangat berbeda dengan tindikan pengasuhan, pendidikan pada anak usia remaja apalagi dengan orang dewasa.. Titik tekan pengasuhan pada usia dini adalah pada aspek pengembangan psikologisnya (developmental)-nya. Asek psikologis yang sangat diperlukan untuk diperhatikan adalah aspek kemampuan “belajar sosial” atau social learning proces. Yaitu aspek kemampuan berimitasi, beridentifikasi dan bersosialisasi atau playing. Namun demikian tentu saja pengasuhan pada aspek fisik, seperti ketercukupan gizi, kebersihan, dan kesehatan juga harus diperhatikan dengan baik. Lebih baik sekali jika program pengasuhan pada usia dini dapat ditangani secara langsung oleh Ibu kandung dan pemberian ASI ekslusif sampai minimal 6 bulan kemudian dilanjutkan pemberian ASI lanjutan sampai usia 2 tahun.
Terkait dengan pola pengasuhan, pembinaan dan pendidikan pada anak-anak usia dini, ada beberapa hal yang sangat urgen untuk dipahami oleh para orang tua (ibu dan bapak). Hal hal tersebut adalah tentang bagaimana naluri dan kemampuan pengenalan pertama anak, dan sifat-sifat/karakter awal yang dimiliki anak. Karakter artau sifat dasar ini diantara yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sifat egosentrisme anif dan sifat fisiognomi anak terhadap dunia di sekitarnya.
A. Naluri dan Pengenalan Pertama
Ketika dilahirkan ke dunia, seorang anak manusia hanyalah bagaikan seonggok daging hidup yang sama sekali tidak berdaya. Fungsi jasmaniah dan rohaniah-nya sama sekali belum berkembang dengan sempurna. Namun karena kelemahan dan ketidakberdayaannya inilah, anak manusia mempunyai kemungkinan untuk survive melangsungkan kehidupannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Berbeda dengan anak binatang, mereka dilahirkan dalam keadaan serba sempurna. Anak ayam begitu menetas dari telurnya sudah bisa mencari makan sendiri. Anak sapi begitu lahir langsung bisa berdiri dan berlari, demikian pula dengan anak macan, begitu lahir langsung bisa ke sana kemari mecari mangsa buruannya. Sepintas, menjadi anak binatang tampak lebih beruntung daripada menjadi anak manusia . Namun sesungguhnya kelengkapan yang dimiliki oleh anak-anak binatang tersebut justru menjadikan mereka tidak bisa mengembangkan nalurinya, sehingga kemampuan binatang tidak bertambah banyak. Beroperasinya hanya untuk mengekalkan semua naluri dan kemampuan yang sudah ada, jadi perkembangan naluri pada binatang itu bersifat konservatip, tidak progresif sebagaimana pengembangan naluri pada anak-anak manusia. Kepandaian binatang dibatasi oleh naluri yang sudah fixed tetap. Sebaliknya anak manusia tidak diikat oleh naluri yang sudah fixed tetap, sehingga anak manusia bisa mengembangkan kemampuan dan kepandainnya sampai batas maksimal.
Anak manusia tumbuh berkembang dituntun oleh “Akal Budi” yang dia peroleh melalui proses belajar selama masa pertumbuhan dan perkembangnnya. Ia melihat, mendengar, merasakan dan kemudian mencoba dan akhirnya menjadi bisa dan terbiasa. Itulah yang disebut social learning proces yang dilakukan secara imitatif maupun identifikatif. Dengan akal budi inilah terlahir suatu konsep totalitas afektif konatif dan kognitif, yang disebut kebudayaan. Dengan kebudayaan tersebut anak manusia sanggup menyesuaikan diri di dalam lingkungan hidupnya sehari-hari, dan bahkan mampu merubah lingkungan sekitarnya sehingga ia menemukan kenyamanan hidupnya.
B. Usia 1 - 5 Tahun
Dalam tahun pertama proses perkembangan dan pertumbuhannya, anak akan cepat mengenali lingkungan tempat tinggalnya. Namun pengenalan tersebut serba tidak lengkap dan belum terperinci . Pengertian dan pengenalanya terhadap lingkungan masih banyak dipengaruhi oleh aktifitas orang dewasa, ia masih dibatasi oleh rasa belum sadar. Sehingga dalam melihat dan mengenali lingkungan masih dilakukan dengan cara primitif atau sederhana. Pengamatan yang demikian ini dalam istilah psikologi anak disebut sebagai complek qualita, artinya pengamatannya merupakan satu totalitas. Anak belum bisa membedakan bagian dengan detailnya.
Periode uisa 1 sampai 5 tahun dalam masa tumbuh kembang anak disebut sebagai “tahun kuartal pertama penuh kebodohan” . Masa tersebut akan dibatasi atau diakhiri dengan masa menentang pertama. Pada masa penentangan ini berlangsung, anak-anak mulai mengenal konsep AKU. Ia mulai mengerti dirinya dan menyadari adanya perbedaan dirinya dengan orang lain. Dari sinilah anak akhirnya menemukan pengertian baru terhadap dunia yang penuh dengan realitas.
Menurut Konsep teori dalam psikologi anak, beberapa ciri khas pada masa kanak-kanak dapat diuraikan sebagai berikut :
Bersifat Egosentrisme Naif
Egoisme dan Egosentrisme adalah dua terminologi yang sering dikacaukan pemaknaannya. Kedua istilah tersebut sangat berbeda artinya. Oleh karena itu untuk menghindari kerancuan penggunaannya, maka terlebih dahulu harus dijelaskan arti dari kedua istilah tersebut.
Jika seseorang dengan sadar selalu menuntut agar semua orang yang ada disekelilingnya mau melayani dan mengikuti setiap kehendaknya, lagi pula semua perbuatannya tersebut didasarkan atas pertimbangan untung rugi (khususnya untuk keuntungan pribadi), maka orang yang demikian tersebut disebut egoistik atau egois. Dengan kata lain egos atau egoistik adalah paham yang mementingkan dirinya sendiri.
Egosentrisme adalah merupakan sifat bathin yang dimiliki seseorang sebagai pembawaan yang berlangsung secara tidak disadari oleh anak atau individu . Seorang anak yang egosentris memandang dunia luar dari pandangannya sendiri sesuai dengan dunia pemahaman nya yang masih sempit. Perbuatan dan tindakan yang dilakukan masih sangat terpengaruh oleh perkembangan akal budinya yang masih sederhana, sehingga ia tidak mampu menyelami perasaan dan fikiran orang lain. Ia belum mampu menempatkan ke dalam kehidupan bathiniah orang lain. Dengan begitu egosentrisme pada umumnya terdapat pada anak-anak kecil. Sebab secara naif dia sangat terikat pada dirinya sendiri. Ia belum mampu memisahkan dirinya dengan lingkungannya. Sikap egosentrisme naif ini bersifat temporer dan senantiasa dialami oleh setiap anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Relasi sosial Yang Primitif
Sebagai akibat dari sifat egosentrisme yang naif tersebut, maka relasi sosial dengan lingkungannya masih sangat longgar. Hal ini disebabkan anak belum sadar menghayati kedudukan dirinya dalam suatu lingkungan tertentu. Sehingga dunia sekitar anak belum bisa tampil sebagai satu kesatuan obyektif tersendiri. Oleh karena itulah ikatan sosial yang muncul dalam relasi sosial masih sangat simpel dan primitif. Dalam diri anak belum tumbuh kesadaran kesadaran dan pengertian akan adanya orang lain dan benda-benda lain yang berbeda dengan dirinya. Ringkasnya kehidupan individual dan kehidupan sosial belum terpisahkan oleh anak. Anak cuma bisa meminta benda-benda dan peristiwa yang sesuai dengan dunia fantasinya dan dunia keinginannya. Anak membangun dunianya sesuai dengan khayalan dan keinginannya.
Kesatuan Jasmani dan Rohani Yang Tak Terpisahkan
Dalam fase kehidupan pertama ( 1 sampai 5 tahun), dunia lahiriah dan bathiniah anak masih belum terpisahkan. Artinya anak belum dapat memahami perbedaannya . Isi lahiriah dan isi bathiniah masih merupakan kesatuan yang bulat. Oleh karena itu penghayatan anak diekpresikan secara spontan dan jujur dalam setiap mimik, gerakan, tingkah laku dan bahasanya. Anak tidak bisa berbohong atau bertingkah laku berpura-pura. Anak menampilkan kehidupan bathiniahnya secara terbuka. Oleh karena itu pribadi anak tampak polos,jelas pada tingkah laku lahiriahnya.
Anak Bersifat Fisognomis terhadap Dunia Sekitarnya
Anak bersifat fisiognomi, artinya anak secara langsung memberikan atribut atau pensifatan lahiriah atau material pada setiap proses penghayatannya. Peristiwa demikian ini disebabkan oleh pemahaman anak secara totaliter tentang kesatuan jasmani dan rohani. Juga disebabkan oleh perkembangan jiwanya yang awal. Anak tidak bisa membedakan antara benda yang hidup dan benda yang mati. Segala sesuatu disekitarnya dianggap berjiwa, sebagai bentuk mahluk yang hidup yang memiliki badan dan roh sekaligus seperti halnya dirinya sendiri. Oleh karena itu anak-anak sering kita lihat bercakap-cakap dengan kucing, bercanda dengan kelincinya, bertutur kata dengan bonekanya, mainan dan benda -benda lainnya. semua benda di sekitarnya disamakan dengan dirinya, dan dia juga mengira bahwa semua benda itu sepandai dan setaraf dengan kemampuan dirinya. Oleh karena itu dalam kontek psikologi anak, periode 1 sampai 5 tahun ini juga sering disebut periode estetis. Pada periode ini, perkenalan dan komunikasinya dengan dunia luar bercorak sangat aktif, karena diwarnai dengan emosi-emosi yang kuat.
Masa Kritis Dan Masa Penentangan Anak
Perkembangan anak yang masih sangat muda sangat tergantung pada pemeliharaan dan bantuan orang dewasa terutama ibunya. Setelah mengalami masa ketergantungan mutlak pada ibunya, anak-anak yang berumur 4 - 5 tahun mulai ingin melepaskan diri dari pengaruh wibawa ibunya. Pada saat itu anak mulai sadar dan mengenal AKU -nya atau egonya, serta mulai mengenal dan sadar akan tenaga dan kemampuan dirinya sendiri. Anak mempunyai keinginan untuk mandiri dan mau bertingkah laku menurut kemauan diri sendiri. Ia beranggapan bahwa ia tidak lagi memerlukan bantuan ibunya lagi dan mau berbuat semaunya sendiri. Anak mulai tegar dan keras kepala, juga tidak patuh terhadap perintah ibu maupun gurunya. Anak tidak suka diperintah dan tidak suka aturan-aturan yang mengikat. Oleh penemuan “Aku”nya itulah kemudian timbul kecenderungan untuk memberontak terhadap ibunya. Periode ini disebut sebagai masa menentang atau Trotzalter Pertama , disebut pula sebagai fase negatif . Fase ini biasanya akan berlangsung selama 10 bulan. Timbulnya tanpa sebab-sebab tertentu dan akan hilang atau merda dengan sendirinya. Pada masa ini biasanya akan timbul dorongan yang sangat kuat untuk menuntut pengakuan dirinya. Kemauannya harus dituruti, emosinya sering meluap-luap disertai dengan agresi yang kuat terutama kalau keinginannya tidak dituruti.
Selasa, 11 Mei 2010
MENUJU YANG TERBAIK UNTUK CITA CITA ANAK

Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan yang terbaik bagi putra-putrinya. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tua untuk memberikan kehidupan yang terbaik untuk putra-putrinya, mulai dari mencarikan sekolah yang terbaik (sesuai dengan kemampuan), kecukupan gizi dan nutrisi yang berkualitas, aneka mainan dan bahkan menuruti keinginan-keinginan putra putrinya !
Namun demikian pada satu sisi yang lain orang tua sering tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan intervensi (campur tangan yang sifatnya memaksa) yang terlalu jauh dalam kehidupan masa depan anaknya sehingga anak mengalami berbagai tekanan dan ketidaknyamanan dalam menjalankan fungsi kehidupannya sehari hari. Sebagi contoh misalnya dalam mengarahkan masa depan kehidupan dan cita-cita sang anak. Orang tua sering mengarahkan anaknya agar besuk jadi ini atau jadi itu dengan cara-cara yang tidak konstruktif dan tidak kondusif bagi kehidupan psikologis anak. Misalnya memaksakan anaknya masuk sekolah ini atau itu, kuliah di fakultas ini atau itu yang tidak disukai atau tidak diinginkan sang anak dan sebagainya. Jika anak tidak mau dan tidak suka sekolah di pondok pesantren misalnya, sebaiknya anak tidak dipaksa untuk mondok. Namun tidak berarti orang tua tidak boleh meminta konfirmasi afirmatif kepada anaknya mengapa dia tidak mau mondok di pondok pesantren. Jika hasil konfirmasi afirmatif tersebut tidak didasarkan pada pemahaman tentang pondok pesantren yang logis dan benar, dan anak tidak punya alasan yang logis maka orang tua perlu memberikan ekplansi /the detail to explanations (penjelasan secara detail sehingga menjadi benar dan terang) tentang permasalahan tersebut. Ekplanasi tersebut bisa dilakukan dengan memberikan real experiance (pengalaman nyata) pada anak dengan cara mendatangi atau mengajak anak untuk mengenali secara langsung bagaimana sesungguhnya kehidupan pondok pesantren itu. Bisa juga dengan mendatangi acara open house, atau boleh pula mengundang other person yang pernah sekolah di pondok pesantren sebagai model yang layak ditiru.
Proses dinamis yang berlangsung tersebut akan memberi kesempatan pada anak untuk membangun personal idial perception guna menyeimbangkan (adjusment balancing) dengan personal idial perception orang tuanya. Bila keseimbangan persepsional ini telah terbangun (anak dan orang tua bisa saling menyesuaikan diri) maka tidak usah dipaksa-paksa pun anak akan mengikuti kehendak dan selera orang tuanya.
Dialog dan proses keseimbangan hubungan (relationship) adalah kata kunci yang harus dipegang oleh orang tua dalam mengarahkan, membentuk dan mewujutkan cita-cita dan masa depan putra-putrinya tercinta. Hindarkan menggunakan bahasa “pokoknya” dan model-model pendekatan pemaksaan dalam pengasuhan, perawatan dan pendidikan putra-putri kita. Bahasa demokrasi dan bahasa egalitarinisme (kemitraan dan kesejajaran) tampaknya akan lebih elok kita pakai dalam mengantarkan putra-putri kita mencapai cita-cita dan masa depan
II
Apakah Salah ?
Dengan menyimak statemen-statemen tersebut diatas timbulah pertanyaan-pertanyaan , mengapa kadang-kadang orang tua suka memakasakan kehendaknya pada sang anak ? Mengapa kadang-kadang orang tua suka egocentrime minded ? mengapa orang tua suka merasa paling tahu dan paling bener ? mengapa orang tua over protective ? Mengapa semua hal itu terjadi ? Mengapa demikian? dan sejuta tanda tanya lain, mengapa…mengapa…mengapa. Apakah semua itu merupakan hal yang salah ??
Orang tua, baik secara sadar maupun tidak sadar memang terlalu cenderung bersikap egocentristis dan proteksionis kepada anak-anaknya, karena secara instingtif orang tua punya anggapan bahwa anak adalah tanggung jawabnya penuh, anak tidak mengerti apapun tentang apa yang harus dilakukan untuk dirinya. Artinya orang tua memandang kehidupan atau dunia putra-putrinya dari sudut pandang atau perspektif dirinya,bukan sebaliknya, orang tua mencoba melihat kehidupan anak dari dunia anak itu sendiri. Orang tua sangat sering menganggap anak adalah helpless (selalu butuh ditolong karena tak berdaya) dan tidak banyak tahu tentang banyak hal sehingga anak harus selalu diarahkan, ditunjukkan, dan di tentukan arah perilaku, perbuatan bahkan perasaan-perasaanya.
Kondisi atau situasi yang demikian ini sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang salah, dalam pengertian bukan sebagai perilaku pengasuhan yang menyimpang, sebab perilaku orang tua yang sedemikian tadi adalah merupakan dorongan instingtif ( insting maternal) yang dikembangkan / dimodifikasi melalui proses pembelajaran lingkungan (social learning process) secara terus menerus sehingga terpola sebagai bentuk pengasuhan protective intervensif yang tidak disadari. Agar situasi relationship anak – orang tua yang kurang nyaman ini tidak berkembang menjadi “tindakan” yang salah maka satu hal penting yang harus dipahami oleh jajaran orang tua adalah “memahami dunia anak” dalam perspektif kepentingan anak, bukan kepentingan orang tua semata-mata. Memahami siklus kehidupan anak tidak cukup hanya dengan memberikan perhatian dan mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya, tetpi jauh lebih penting dari semua itu adalah memberikan perlakuan yang tepat, dengan memperlakukan anak sesuai dengan dunia anak-anak itu sendiri.
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil ! sehingga anak harus diperlakukan sebagai anak, jangan sekali-kali memperlakukan dan menuntut anak untuk berbuat, berperilaku dan bertanggungjawab layaknya orang dewasa.
III
Temukan Apa Cita- Cita Anak Anda ?
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua kepada putra putrinya tentang besuk mau jadi apa, sebenarnya bukan merupakan sekedar pertanyaan basa-basi atau pertanyaan iseng. Pertanyaan tersebut mengandung ekpektasi (pengharapan) orang tua terhadap masa depan anak. Jawaban anak pun sebenarnya bukan sekedar jawaban jawaban spontanitas. Jawaban tersebut muncul setelah melalui serangkaian proses pembelajaran lingkungan dan pembelajaran psikologis yang komplek. Jika demikian halnya maka wajib bagi orang tua untuk memberikan apresiasi yang positip dan konstruktif dalam menterjemahkan jawaban atas pertanyaan “adik besuk mau jadi apa” tersebut. Misalnya anak ingin menjadi sesuatu yang tidak diinginkan orang tua maka tidak sepantasnya jika orang tua langsung men-cut dan langsung memberikan arahan atau komando agar menjadi sesuatu yang lain saja yang sesuai dengan values & frame of refrence orang tuanya. Bila kondisi yang disebut terakhir tadi benar-benar terjadi maka anak akan mengalami krisis rasa percaya diri dan menjadi pribadi yang sangat dependenable (sangat tergatung pada keputusan orang lain). Oleh karena itu, jika anda ingin mengantarkan putra-putri anda menjadi pribadi yang visioner dalam mewujutkan cita-cita masa depannya, lakukanlah “tuntunan” bukan arahan. Tuntunan dalam pengertian ini adalah tut wuri handayani, sedangkan arahan itu adalah mengarahkan anak pada target yang telah ditetapkan oleh orang tua. Agar kita tidak salah dalam “menuntun” putra putri kita, berikut adalah beberapa hal yang harus kita (orang tua) lakukan.
1. Kenali potensi awal anak anda : Semenjak usia dini lakukanlah pengenalan potensi awal anak-anak kita. Potensi awal ini terbentuk lebih karena interaksi stimulatif antara anak dengan kehidupan di sekitarnya. Pada usia yang dini anak lebih benyak belajar melalui mekanisme pengamatan dan peniruan, sehingga aktivitas dan dinamika yang terjadi di sekitar kehidupan anak akan sangat mempengaruhi terbentuknya potensi awal ini. Pengenelan potensi awal ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
- observasi terhadap kegemaran, ketrampilan, kebiasaan sehari hari
- prestasi akademik (academic report)
- tes potensi (psikotes) bila perlu
- karya-karya yang dihasilkan (lukisan, musik, puisi, hobby, mainan-mainan dan sebagainya)
2. berikan anak kesempatan untuk mengekpresikan potensi-potensi positip yang dimiliki, dengan cara tidak terlalu banyak melakukan pelarangan-pelarangan secara ektrim. Pengawasan memang tetap diperlukan tetapi jangan terlalu over protective. Ketika seorang anak (usia SD kelas 4 sampai remaja) merasa selalu diawasi dan dilindungi, anak akan merasa tidak nyaman karena pada usia tersebut anak sudah mulai menemukan “aku” nya. Bila rasa tidak nyaman tersebut berlarut-larut maka anak akan melakukan ‘pemberontakan dan perlawanan’ dengan melakukan perilaku-perilaku yang sekiranya membuat orang tuanya cemas atau gelisah (dalam hati anak berkata “rasain loe” ).
3. Diskusikan apa yang anda inginkan atas masa depan anak anda dan apa yang anak anda inginkan atas dirinya, dalam suatu forum ‘perbincangan’ ringan dalam keluarga. Sesuper sibuk apapaun, Anda harus memaksa diri untuk menyisihkan dan meluangkan waktu berbicara dengan putra-putri anda. Perbincangan anak-orang tua yang dilandasi dengan kasih sayang akan menjadi energi positip bagi terwujutnya “sinergi cinta” dalam keluarga. Sinergi cinta ini adalah nutrisi kehidupan dalam keluarga yang sangat spektakuler.
4. Tahan diri anda untuk tidak berlaku otoriter, memaksakan keinginan anda kepada anak, dengan mengkamuflasekan seakan-akan hal itu untuk kepentingan anak anda.
5. Perkenalkan anak dengan berbagai profesi, sehingga anak memperoleh gambaran tentang berbagai profesi yang kelak bisa dia pilih.
6. Biarkan dan diskusikanlah terus ketika anak anda mempunyai cita-cita yang berubah-ubah. Biasanya cita-cita seseorang itu akan terfokus pada satu target cita-cita tertentu adalah pada saat anak mencapai usia pendidikan setara dengan kelas III SMA.
7. siapkan diri anda secara financial maupun secara mental untuk mengkawal cita-cita putra-putri tercinta.
8. Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo manun Karso.
9. Doakan dengan sungguh-sungguh, karena anaka adalah amanah dan titipan tuhan kepada kita.
Selamat menjadi orang tua yang Hebat !
Sukomulyo – Kadipiro Tuesday, July 22, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)