Sabtu, 02 April 2011
Latihan Soal : Psikologi Lingkungan ( 1)
Mata kuliah : Psikologi Lingkungan
Semester : VI
Penguji : Drs. Soleh Amini,MSI
Waktu : 60 menit
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan sejelas-jelasnya. Bobot nilai masing masing soal adalah 25 poin.
1. Hubungan antara manusia dengan lingkungan ( environment) harus bersifat interaksionistis dan mutualisme symbiotik. Jelaskan apa maksud kalimat tersebut. Berikanlah contoh dari bentuk hubungan yang bersifat interaksionistic dan mutualisme symbiotik sehingga terwujut keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungannya.
2. Hakekat esensisal dari eksistensi manusia dan lingkungan adalah sebagai sebuah entitas. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kata “entitas” dalam kalimat ini.
3. Kepadatan (density) kesemrawutan (crowding) dan kebisingan (noise) adalah merupakan salah satu bentuk polusi psikologis yang kerap memicu timbulnya friksi-friksi sosial maupun friksi horisontal dimasyarakat dengan struktur padat penduduk. Jelaskan bagaimanakah dinamika dari peristiwa tersebut diatas. Berikan contohnya.
4. Respon manusia terhadap lingkungannya bergantung pada bagaimana individu itu mempersepsi lingkungan. Sebutkan dan jelaskan konsep tentang gejala-gejala persepsi lingkungan yang dipersepsikan oleh manusia.
5. Tentang Polusi : jelaskan apakah yang dimaksud dengan polusi dan polutan, sebutkan macam-macam polusi, polutan dan contoh-contohnya.
Latihan Soal : PSikologi Sosial 1.3
UNIVRSITAS MUHAMMADIYAH SURAKRTA
Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp. (0271) 717417 Tromol pos 1 Surakarta 57102
UJIAN MID SEMESTER
Fakultas : Psikologi Hari, Tgl :
Mata Uji : Psikologi Sosial 1 Jam : Ke III
Progdi : Psikologi Waktu : 75 Menit
Semester : II Penguji : Drs.Soleh Amini . MSi
Petunjuk mengerjakan.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut di bawah ini dengan jelas. Tulisan tangan yang rapi dan mudah dibaca. Kerjakan sendiri-sendiri.
1. Hampir semua ahli psikologi sosial modern menyebut istilah “ Situasi Sosial” dalam mendefinisikan pengertian psikologi sosial. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “situasi sosial” tersebut.
2. A. Sejarah Perkembangan Psikologi Sosial : William Mc Dougall adalah orang pertama yang ditahbiskan sebagai pelopor kelahiran psikologi sosial. jelaskan apa pendapat Mc. Dougall tentang penyebab terjadinya perilaku sosial.
b. Floyd Allport adalah pengkritik terkuat dari teori Mc, Dougall. Bagaimana kritik dari Allport dan bagaimana pendapat allport tentang penyebab perilaku sosial.
3. Ada tiga model pendekatan dalam psikologi sosial ketika menjelaskan penyebab terjadinya perilaku sosial. Coba sebutkan dan jelaskan ketiga model pendekatan tersebut.
4. Metode korelatif dan metode eksperimental adalah dua metode yang sangat populer dalam penelitian-penelitian psikologi sosial. Bilamanakah kedua metode tersebut dipilih untuk sebuah penelitian, berikan masing masing contohnya.
5. A. Jelaskan apa yang dimaksud dengan persepsi sosial
b. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap orang lain.dalam proses persepsi sosial.
c. Apa yang dimaksud dengan impresi, bagaimana peranan impresi dalam persepsi sosial.
6. A. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “atribusi sosial”, siapakah nama tokoh yang menjadi pioner atau sebagai cikal bakal pengembang teori atribusi ini.
b. jelaskan apa yang dimaksud dengan atribusi internal dan atribusi ekternal. Berikan masing-masing contohnya.
Latihan Soal : PSikologi Sosial 1.2
Ujian Mid Semester
Fakultas : Psikologi
Mata kuliah : Psikologi Sosial 1
Waktu : 75 menit
Dosen Penguji : Drs. Soleh Amini Yahman. M.Si
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas. Tulisan hendaknya yang rapi, jelas dan dapat dibaca.
1. Hampir semua definisi psikologi sosial sebagaimana dikemukakan oleh para ahli (Baron & Birnie, 1994, Brehm & Kassin, 1993, Wiggins & Zanden, 1994, Brigham, 1991) , menyebut istilah “social situations” dalam penjelasannya. Jelaskan apa yang dimaksud dengan social situation dalam kaitannya dengan perilaku sosial manusia. Berikan contohnya.
2. ceritakan secara singkat sejarah perkembangan psikologi social, dimulai sejak pemunculan istilah ‘psikologi sosial’ dari William mc Dougals.
3. Sebutkan dan jelaskan tiga model pendekatan di dalam menjelaskan penyebab terjadinya perilaku sosial. Berikan masing-masing contohnya.
4. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap orang lain.
5. A. Secara garis besar penelitian dalam psikologi sosial dapat dilakukan dengan dua metode pokok. Sebutkan dan jelaskan kedua metode tersebut.
B. Sedangkan pengumpulan data penelitian dapat ditempuh dengan berbagai cara dan pendekatan. Sebutkan dan jelaskan model-model dan pendekatan pengumpulan data dalam penelitian psikologi sosial.
Catatan ;
Masing-masing soal bobot nilainya adalah 20 poin jika anda menjawab dengan benar. Bobot
Latihan Soal : PSikologi Sosial 1.1
UNIVRSITAS MUHAMMADIYAH SURAKRTA
Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp. (0271) 717417 Tromol pos 1 Surakarta 57102
UJIAN MID SEMESTER
Fakultas : Psikologi Hari, Tgl :
Mata Uji : Psikologi Sosial 1 Jam :
Progdi : Psikologi Waktu : 75 Menit
Semester : III Penguji : Drs.Soleh Amini.MSi
Petunjuk Mengerjakan:
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas. Tulisan yang rapi dan mudah di baca.
Soal.
1. Jelasakan bagimanakah kedudukan ilmu psikologi sosial di antara ilmu-ilmu sosial lainnya, terutama ilmu sosiologi dan antrolpologi.
2. Jelaskan bagimana obyek formal dan obyek material dari masing-masing ilmu tersebut pada soal nomor 1.
3. Hampir semua ahli psikologi sosial modern mendefinisikan psikologi sosial adalah ilmu yang terkait dengan dinamika “SITUASI SOSIAL” Jelaskan apa yang dimaksud dengan situasi sosial itu.
4. Sekitar Tahun 1924 Floyd Allport memunculkan gagasan tentang masalah perilaku sosial. Jelaskan bagaimana konsep pemikiran Floyd Allport tentang masalah perilaku sosial tersebut
5.Jelaskan apa yang dimaksud dengan Persepsi Sosial
6.Bagaimana peranan impresi sosial dalam pembentukan hubungan sosial.
7.Faktor-faktor apa yang berperanan dalam mempengaruhi persepsi sosial.
8.Pada dasarnya peneliti bidang psikologi sosial dapat menggunakan hampir semua jenis metode penelitian yang ada. Anda sebutkan dan anda jelaskan metode penelitian yang paling populer digunakan dalam riset-riset psikologi soial.
9.Apa yang dimaksud dengan natural setting eksperimental reaserch dalam penelitian psikologi sosial.
Soal nomor 10 adalah soal Bonus, bagi yang mengejakan dan jawabannya benar mendapat tambahan skor 10. Jawaban Salah nilai dikurangi 5.
10.Perdebatan tentang sumber penyebab perilaku sosial telah berlangsung cukup lama. Seymour Epstein mendiskusikan tiga pendekatan yang saling mengaku bahwa pendekatan merekalah yang paling benar. Anda sebutkan dan anda jelaskan ketiga pendekatan yang dimaksud
SELAMAT BEKERJA
Semoga Sukses
Latihan Soal : PSikologi Sosial 1
UNIVRSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
UJIAN MID SEMESTER
Mata uji: PSIKOLOGI SOSIAL 1.
Penguji : Drs.Soleh Amini . MSi
waktu : 75 menit
Petunjuk mengerjakan.
1. Awalilah pengerjaan soal ini dengan berdoa, dan akhirilah dengan bacaan Hamdallah.
2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut di bawah ini dengan jelas. Tulisan tangan yang rapi dan mudah dibaca. Kerjakan sendiri-sendiri.
Soal.
1.Hampir semua ahli psikologi sosial modern menyebut istilah “ Situasi Sosial” dalam mendefinisikan pengertian psikologi sosial. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “situasi sosial” tersebut.
2.A. Sejarah Perkembangan Psikologi Sosial : William Mc Dougall adalah orang pertama yang ditahbiskan sebagai pelopor kelahiran psikologi sosial. jelaskan apa pendapat Mc. Dougall tentang penyebab terjadinya perilaku sosial.
b. Floyd Allport adalah pengkritik terkuat dari teori Mc, Dougall. Bagaimana kritik dari Allport dan bagaimana pendapat allport tentang penyebab perilaku sosial.
3.Ada tiga model pendekatan dalam psikologi sosial ketika menjelaskan penyebab terjadinya perilaku sosial. Coba sebutkan dan jelaskan ketiga model pendekatan tersebut.
4.Metode korelatif dan metode eksperimental adalah dua metode yang sangat populer dalam penelitian-penelitian psikologi sosial. Bilamanakah kedua metode tersebut dipilih untuk sebuah penelitian, berikan masing masing contohnya.
5.Syarat daripada terbentuknya interaksi social adalah adanya kontak social dan komunikasi social.
a.Dalam komunikasi social sering berkembang bentuk-bentuk komunikasi fatis atau fathic communication. Jelaskan dan berikan contohnya.
b. Social relationship merupakan salah satu produk dari interaksi social. Jelaskan interaksi social yang bagaimanakah yang bias menghasilkan relasi social yang relaif permanen.
c.Apa pengertian dari relasi social (social relationship) itu apa perbedaannya dengan interksi social
Kamis, 31 Maret 2011
MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL BANGSA Soleh Amini Yahman
by Soleh Amini Yahman
Tanggal 20 Mei dicatat dan ditetapkan oleh bangsa Indonesia sebagai hari kebangkitan nasional. Memperingati hari kebangkitan nasional berarti melakukan proses evaluasi diri sebagai bangsa.
Apakah kehidupan berbangsa dan bernegara selama 61 tahun sejak memerdekakan diri dari belenggu penjajahan telah memberikan arti bagi kehormatan, harga diri dan martabat sebagai sebuah Bangsa. Sudah benar-benar bangkitkah bangsa Indonesia dari keterjajahan dan mampu berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu menemukan kesadaran dirinya sebagai sebuah bangsa. Sudah benar-benar lepaskah bangsa Indonesia dari cengkraman penjajahan bangsa lain. Pertanyaan-pertanyaan ini selalu terulang dan terulang setiap kali memperingati hari kebangkitan nasional, dan selama itu pula kita selalu ragu-ragu untuk memberikan jawaban yang pasti. Masih ada keraguan dalam sanubari untuk mengatakan bahwa bangsa kita telah bangkit dan lepas dari cengkraman penjajahan. Keraguan ini timbul karena realita kehidupan masyarakat bangsa Indonesia masih menujukkan banyaknya ketergantungan terhadap negara maju dan bahkan kehidupan bangsa ini masih banyak diatur dan ditentukan oleh kebijakan-kebijakan negara lain. Maka yang terjadi bangsa ini menjadi obyek ekperiemntasi politik, sosial, ekonomi dan bahkan budaya oleh negara-negara adi daya, terutama Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya. Dengan menggunakan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mereka memindahkan ribuan ton kekayaan alam Indonesia ke negara mereka, dan dengan kekuatan ekonominya mereka mengatur bagaimana tatanan sosial ekonomi negeri ini harus dijalankan. Pencabutan subsidi bahan bakar minyak sebagai salah satu contohnya.
Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 di negara-negera Asia tenggara telah menimbulkan efek domino yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi indonesia. Bila negara-negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Philipina, Korea telah sembuh dan bangkit dari krisis ekonomi, tidak demikian dengan Indonesia. Bahkan lebih parahnya lagi krisis yang mula-mula berbasis pada sektor ekonomi justru berkembang menjadi krisis yang multidemensional, di antaranya krisis politik, kultural dan sosial.
Sejalan dengan merebaknya krisis multidemensional itu, cobaan dan ujian bangsa Indonesia tidak juga mereda. Berbagai musibah, huru hara dan bencana alam melanda negeri. Hempasan gelombang tsunami di aceh dan nias, banjir bandang di jember dan trenggalek, tanah longsor, kecelakaan pesawat terbang dan kereta api yang beruntun, konflik bersenjata di maluku, aceh, sulawesi, papua dan kasus-kasus white color crime seperti korupsi,kolusi dan nepotisme, benar-benar membuat bangsa Indonesia mengalami shock yang luar biasa. Belum lagi gangguan terorisme dan merebaknya berbagai penyakit menular yang mematikan.
Pertanyaan yang timbul dari rentetan kasus-kasus itu adalah dosa apa yang telah diperbuat bangsa ini sehingga Tuhan begitu murka ? Benarkan itu semua sekedar ujian atau cobaan ? Ataukah ini semua merupakan buah dari kekufuran kita terhadap kenikmatan yang telah dilimpahkan tuhan kepada bangsa kita ? Jawaban yang pasti atas rentetan pertanyaan tersebut memang sulit dijawabnya mengingat kompleksitas etiologi yang menyebabkan timbulnya aneka permasalahan yang membelit kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian bangsa Indonesia akan bisa mengurai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bila kita mau melakukan evaluasi diri untuk kemudian menemukan kesadaran diri sebagai bangsa yang berwibawa dan patut dihormati oleh bangsa-bangsa lain termasuk negara adi daya.
Oleh karena itu marilah momen hari kebangkitan nasional ini dijadikan titik pijakan untuk merenungkan dan kemudian berbuat untuk membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah porak poranda karena kebodohan emosional dan kebodohan spiritual kita sebagai bangsa.
Kecerdasan Emosional & Spiritual
Dalam menghadapi berbagai permasalahan yang bersifat multidimensi diperlukan adanya ketajaman pikir dan nurani yang tinggi sehingga mampu melihat permasalahan tidak secara parsial dan perifer. Permasalahan bangsa harus dilihat secara holistik atau menyeluruh sehingga akan terungkap keterkaitan atau interkoneksi antara satu permasalahan dengan permasalahan yang lain. Untuk mencapai tahapan tersebut hanya dimungkinkan bila bangsa Indonesia memiliki tingkat kecerdasan emosional (emotional intelegence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelegence) yang tinggi. Dengan kecerdasan emosional dan kecerdsan spiritual ini manusia akan berorientasi secara postif dan konstruktif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Orientasi pemecahan persoalan dengan model pendekatan kecerdasan emosional-spritual tidak hanya pada landasan logika semata, karena memang tidak semua permasalahan dapat dianalisa secara logika intelektual. Banyak sisi-sisi persoalan kehidupan bangsa yang harus diselesaikan dengan pendekatan logika nurani dan spiritual. Bahkan konon menurut Daniel Goldman (1998) kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang sebesar 20% atas kepiawian seseorang dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan, 80 % lainnya disumbangakn oleh faktor kecerdasan emosi dan spiritual, dengan demikian maka keunggulan hati (heart) selangkah lebih cerdas daripada keunggulan kepala (head) dalam meratifikasi persoalan-persoalan kehidupan bangsa.
Kecerdasan emosional mencakup aspek kontrol diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri agar menjadi lebih baik. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara ktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi merupakan persyaratan dasar untuk dapat menggunakan intelegensi secara efektif. Kecerdasan emosional akan menuntun kita untuk berfikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan memampukan seseorang untuk dapat mengenali pola-pola emosi. Sedangkan kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk berfikir secara kreatif, berwawasan jauh dan bahkan akan menuntun seseorang untuk berani mengubah aturan yang dianggap telah keluar dari nilai-nilai illahiyah dan nilai-nilai humanitas.
Danah Zohar dan Ian Marshal (1999) memberikan batasan tentang kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang terkait dengan persoalan makna dan nilai. Apabila dikaitkan dengan teori chaos, maka saat ini bangsa Indonesia sedang berada pada titik ‘ujung’, yaitu titik pertemuan antara tatanan dan kekacauan. Antara yang diketahui dan yang tidak diketahui. Untuk itulah diharapkan kita memiliki kemampuan untuk dapat membaca makna dan nilai yang terkandung dalam setiap persoalan bangsa.
Untuk mencapai pada tataran kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi maka ketrampilan emosional dan spiritual tersebut harus dilatihkan pada anak-anak kita sejak usia dini dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengaktulisasikan potensi intelektuil yang telah dimiliki anak secara genetis, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan natural.
Kecerdasan spiritual tidak mempunyai hubungan yang liner dengan masalah kehidupan beragama. Kecerdasan spiritual tidak sama dengan kualitas kehidupan beragama dan tidak harus dihubung-hubungakn dengan masalah perilaku keagamaan. Namun demikian penguasaan dan kualitas yang baik dalam kehidupan beragama akan sangat membantu dalam mempermudah meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga individu dapat menangkap makna dan nilai kehidupan dengan lebih baik.
Tanda-tanda kecerdasan emosional-spiritual yang telah berkembang dengan baik diantaranya adalah adanya kemampuan untuk bersikap fleksibel dan tidak panik dalam menghadapi kegentingan dan kegawat daruratan. Mampu dan dapat memanfaatkan penderitaan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, terbentuknya kualitas hidup yang dililhami oleh visi dan nilai, mampu melihat keterkaitan pada berbagai persoalan dan memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri. Memiliki kecenderungan bertanya “mengapa atau “bagaimana jika ’ dalam mencari jawaban pada hal-hal yang sifatnya mendasar
Semoga momentum peringatan hari kebangkitan nasional 2006 dapat menjadi titik awal pembangunan kesadaran sebagai bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga kita tidak tergopoh-gopoh dan panik ketika harus menghadapi rentetan persoalan kehidupan. Bangkit dan raih kembali kejayaan bangsa kita. Ayo kita bisa !!! Wallahu a’lam bissawab
Tanggal 20 Mei dicatat dan ditetapkan oleh bangsa Indonesia sebagai hari kebangkitan nasional. Memperingati hari kebangkitan nasional berarti melakukan proses evaluasi diri sebagai bangsa.
Apakah kehidupan berbangsa dan bernegara selama 61 tahun sejak memerdekakan diri dari belenggu penjajahan telah memberikan arti bagi kehormatan, harga diri dan martabat sebagai sebuah Bangsa. Sudah benar-benar bangkitkah bangsa Indonesia dari keterjajahan dan mampu berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu menemukan kesadaran dirinya sebagai sebuah bangsa. Sudah benar-benar lepaskah bangsa Indonesia dari cengkraman penjajahan bangsa lain. Pertanyaan-pertanyaan ini selalu terulang dan terulang setiap kali memperingati hari kebangkitan nasional, dan selama itu pula kita selalu ragu-ragu untuk memberikan jawaban yang pasti. Masih ada keraguan dalam sanubari untuk mengatakan bahwa bangsa kita telah bangkit dan lepas dari cengkraman penjajahan. Keraguan ini timbul karena realita kehidupan masyarakat bangsa Indonesia masih menujukkan banyaknya ketergantungan terhadap negara maju dan bahkan kehidupan bangsa ini masih banyak diatur dan ditentukan oleh kebijakan-kebijakan negara lain. Maka yang terjadi bangsa ini menjadi obyek ekperiemntasi politik, sosial, ekonomi dan bahkan budaya oleh negara-negara adi daya, terutama Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya. Dengan menggunakan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mereka memindahkan ribuan ton kekayaan alam Indonesia ke negara mereka, dan dengan kekuatan ekonominya mereka mengatur bagaimana tatanan sosial ekonomi negeri ini harus dijalankan. Pencabutan subsidi bahan bakar minyak sebagai salah satu contohnya.
Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 di negara-negera Asia tenggara telah menimbulkan efek domino yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi indonesia. Bila negara-negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Philipina, Korea telah sembuh dan bangkit dari krisis ekonomi, tidak demikian dengan Indonesia. Bahkan lebih parahnya lagi krisis yang mula-mula berbasis pada sektor ekonomi justru berkembang menjadi krisis yang multidemensional, di antaranya krisis politik, kultural dan sosial.
Sejalan dengan merebaknya krisis multidemensional itu, cobaan dan ujian bangsa Indonesia tidak juga mereda. Berbagai musibah, huru hara dan bencana alam melanda negeri. Hempasan gelombang tsunami di aceh dan nias, banjir bandang di jember dan trenggalek, tanah longsor, kecelakaan pesawat terbang dan kereta api yang beruntun, konflik bersenjata di maluku, aceh, sulawesi, papua dan kasus-kasus white color crime seperti korupsi,kolusi dan nepotisme, benar-benar membuat bangsa Indonesia mengalami shock yang luar biasa. Belum lagi gangguan terorisme dan merebaknya berbagai penyakit menular yang mematikan.
Pertanyaan yang timbul dari rentetan kasus-kasus itu adalah dosa apa yang telah diperbuat bangsa ini sehingga Tuhan begitu murka ? Benarkan itu semua sekedar ujian atau cobaan ? Ataukah ini semua merupakan buah dari kekufuran kita terhadap kenikmatan yang telah dilimpahkan tuhan kepada bangsa kita ? Jawaban yang pasti atas rentetan pertanyaan tersebut memang sulit dijawabnya mengingat kompleksitas etiologi yang menyebabkan timbulnya aneka permasalahan yang membelit kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian bangsa Indonesia akan bisa mengurai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bila kita mau melakukan evaluasi diri untuk kemudian menemukan kesadaran diri sebagai bangsa yang berwibawa dan patut dihormati oleh bangsa-bangsa lain termasuk negara adi daya.
Oleh karena itu marilah momen hari kebangkitan nasional ini dijadikan titik pijakan untuk merenungkan dan kemudian berbuat untuk membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah porak poranda karena kebodohan emosional dan kebodohan spiritual kita sebagai bangsa.
Kecerdasan Emosional & Spiritual
Dalam menghadapi berbagai permasalahan yang bersifat multidimensi diperlukan adanya ketajaman pikir dan nurani yang tinggi sehingga mampu melihat permasalahan tidak secara parsial dan perifer. Permasalahan bangsa harus dilihat secara holistik atau menyeluruh sehingga akan terungkap keterkaitan atau interkoneksi antara satu permasalahan dengan permasalahan yang lain. Untuk mencapai tahapan tersebut hanya dimungkinkan bila bangsa Indonesia memiliki tingkat kecerdasan emosional (emotional intelegence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelegence) yang tinggi. Dengan kecerdasan emosional dan kecerdsan spiritual ini manusia akan berorientasi secara postif dan konstruktif dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Orientasi pemecahan persoalan dengan model pendekatan kecerdasan emosional-spritual tidak hanya pada landasan logika semata, karena memang tidak semua permasalahan dapat dianalisa secara logika intelektual. Banyak sisi-sisi persoalan kehidupan bangsa yang harus diselesaikan dengan pendekatan logika nurani dan spiritual. Bahkan konon menurut Daniel Goldman (1998) kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang sebesar 20% atas kepiawian seseorang dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan, 80 % lainnya disumbangakn oleh faktor kecerdasan emosi dan spiritual, dengan demikian maka keunggulan hati (heart) selangkah lebih cerdas daripada keunggulan kepala (head) dalam meratifikasi persoalan-persoalan kehidupan bangsa.
Kecerdasan emosional mencakup aspek kontrol diri, semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri agar menjadi lebih baik. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara ktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi merupakan persyaratan dasar untuk dapat menggunakan intelegensi secara efektif. Kecerdasan emosional akan menuntun kita untuk berfikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan memampukan seseorang untuk dapat mengenali pola-pola emosi. Sedangkan kecerdasan spiritual memungkinkan seseorang untuk berfikir secara kreatif, berwawasan jauh dan bahkan akan menuntun seseorang untuk berani mengubah aturan yang dianggap telah keluar dari nilai-nilai illahiyah dan nilai-nilai humanitas.
Danah Zohar dan Ian Marshal (1999) memberikan batasan tentang kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang terkait dengan persoalan makna dan nilai. Apabila dikaitkan dengan teori chaos, maka saat ini bangsa Indonesia sedang berada pada titik ‘ujung’, yaitu titik pertemuan antara tatanan dan kekacauan. Antara yang diketahui dan yang tidak diketahui. Untuk itulah diharapkan kita memiliki kemampuan untuk dapat membaca makna dan nilai yang terkandung dalam setiap persoalan bangsa.
Untuk mencapai pada tataran kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi maka ketrampilan emosional dan spiritual tersebut harus dilatihkan pada anak-anak kita sejak usia dini dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengaktulisasikan potensi intelektuil yang telah dimiliki anak secara genetis, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan natural.
Kecerdasan spiritual tidak mempunyai hubungan yang liner dengan masalah kehidupan beragama. Kecerdasan spiritual tidak sama dengan kualitas kehidupan beragama dan tidak harus dihubung-hubungakn dengan masalah perilaku keagamaan. Namun demikian penguasaan dan kualitas yang baik dalam kehidupan beragama akan sangat membantu dalam mempermudah meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga individu dapat menangkap makna dan nilai kehidupan dengan lebih baik.
Tanda-tanda kecerdasan emosional-spiritual yang telah berkembang dengan baik diantaranya adalah adanya kemampuan untuk bersikap fleksibel dan tidak panik dalam menghadapi kegentingan dan kegawat daruratan. Mampu dan dapat memanfaatkan penderitaan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, terbentuknya kualitas hidup yang dililhami oleh visi dan nilai, mampu melihat keterkaitan pada berbagai persoalan dan memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri. Memiliki kecenderungan bertanya “mengapa atau “bagaimana jika ’ dalam mencari jawaban pada hal-hal yang sifatnya mendasar
Semoga momentum peringatan hari kebangkitan nasional 2006 dapat menjadi titik awal pembangunan kesadaran sebagai bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga kita tidak tergopoh-gopoh dan panik ketika harus menghadapi rentetan persoalan kehidupan. Bangkit dan raih kembali kejayaan bangsa kita. Ayo kita bisa !!! Wallahu a’lam bissawab
CINTA SEBAGAI AMUNISI JIWA DALAM MENDIDIK ANAK MANUSIA
By. Soleh Amini Yahman
………….dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa
mereka……………………(QS. An-Nisa’ : 63) Pendahuluan Dalam konsep ilmu psikologi, proses tumbuh kembang anak adalah merupakan suatu proses yang selalu terkait dengan masalah “belajar”. Artinya anak akan menjadi apa atau menjadi seperti apa, sangat tergantung pada bagaimana Ia belajar. Anak Belajar Dari Kehidupannya
========== Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar menjadi rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar untuk menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar menjadi percaya diri Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan cinta kasih saying dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. (puisi karya : Dorothy Law Nolte) judul asli : Childern Learn What They Live
Dari Mana anak Belajar ?
Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Dari Mana anak Belajar ? Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Imitasi adalah mekanisme pembelajaran dengan cara menirukan, mencotoh dari model yang dilihat, didengar dan dipersepsikannya. Orang tua sebagai model adalah obyek yang paling dekat untuk ditiru oleh anak-anak. Oleh karena itu orang tua sebagai prime model bagi pembelajaran anak harus ektra dan super hati-hati dalam berucap, berperilaku dan bertindak di hadapan anak-anak. Ingat anak adalah imitator ulung yang tiada taranya. Dengan kata lain, dalam proses tumbuh kembang anak orang tua harus mampu menjadi uswah khasanah (suri tauladan) bagi putra-putrinya. Identifikasi adalah mekanisme psikologis, dimana seseorang (terutama anak-anak) mencoba membentuk identitas dirinya dengan cara mengadopsi secara total figure-figur idialnya (idola) untuk dijadikan identitasnya. Ketika anak mengidolakan orang tua sebagai tokoh super yang dikaguminya maka hal ini menjadi modal yang sangat positip bagi orang tuanya untuk membawa kehidupan masa depan anak-anaknya kepada alur kehidupan yang idial sebagaimana yang diingnkan orang tua. Namun sejalan dengan perkembangan usia seseorang (anak) dan banyaknya rangsang-rangsang social di sekitar kehidupan anak, maka anakpun tidak lagi menjadikan orang tua (ayah/ibu) sebagai tokoh idolanya. Anak mulai menemukan idialitas lain yang lebih sesuai dengan hasrat perkembangan sosialnya. Anak menemukan tokoh idialitasnya dari televisi, bacaan, iklan, internet, sinetron, film yang belum tentu sesuai dengan nilai cultural, agama dan konsep pendidikan kita. Jika hal ini telah mulai terjadi pada anak-anak, maka hak orang tua adalah melakukan”filterisasi” dan intervensi secukupnya untuk mengarahkan agar anak-anak tidak terperosok pada pemilihan idola yang salah. Namun demikian orang tua tidak berhak untuk mencegah atau melarang anak menemukan idialitas dan identitasnya yang ia pungut dari kehidupan di sekitarnya. Dengan Cinta Kita Bicara Cinta adalah bahasa yang paling universal dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Sebab cinta merupakan amunisi jiwa yang sangat dahsyat yang mampu mengalahkan kedahsyatan topan tornado maupun ganasnya luapan lahar gunung merapi. Atas nama cinta, banyak orang (ibu) yang rela berkorban demi kemuliaan hidup anak-anaknya. Apakah Cinta ? Dalam perspektif psikologi, cinta diidentifikasikan sebagai energi kehidupan positif yang bersifat afektif (emosi) . Energi cinta akan membawa seseorang pada perilaku yang positip, karena dalam cinta tersebut terkandung unsur-unsur positip seperti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kejujuran, kepercayaan dan kesunguh-sungguhan. Ketika energi cinta ini diimplemetasikan dalam mendidik anak-anak, maka orang tua harus berlaku ikhlas (lahir dan bathin), sabar dan penuh kasih sayang. Kasih sayang dalam kontek ini tidak berarti harus selalu memberi atau menuruti semua kehendak anak, tetapi mempertegas sikap untuk memberi pelajaran pada anak bahwa tidak setiap keinginan atau kehendak itu harus terpenuhi. Ketegasan tidak sama dengan kekerasan !! Dunia anak-anak jauh sangat berbeda dengan dunianya orang tua/dewasa. Banyak hal yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara keduanya. Kenyataan ini sering membuat orang tua tidak sabar dan tidak tabah dalam mengsuh/mendidik putra-putrinya. Ketidaksabaran dan ketidaktabahan ini menimbulkan konflik yang sering memicu timbulnya kemarahan, sehingga cinta yang semestinya menjadi energi positif berubah menjadi energi destruktif yang merusak sendi-sendi harmoni cinta antara orang tua dan anak-anaknya. Oleh karena itu memelihara cinta sebagai amunisi jiwa adalah merupakan kata kunci untuk membangun kejujuran, kepercayaan dan kesungguhan dalam “gerakan” mendidik dan mengasuh anak-anak tercinta. Bagaimana Memelihara Cinta ? Sebagaimana sebuah tanaman, Cinta juga memerlukan pemeliharan yang baik agar tumbuh subur, berbunga indah dan berbuah lebat. Tanaman perlu dipupuk dengan pupuk organic untuk menjaga kesuburannya, maka cinta juga perlu disuburkan dengan pupuk-pupuk rohaniah. Diantara pupuk yang paling mujarap untuk menjaga kesuburan cinta adalah menumbuhkan rasa saling mengerti. Orang tua harus mencoba belajar memahami dunia anak-anak. Anak-anak bukan merupakan manusia dewasa dalam bentuk mini. Artinya jangan memeperlakukan anak-anak seperti kita memeperlakukan orang dewasa. Anak mempunyai dunianya yang khas, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Dunia anak-anak adalah berekplorasi, berekperimen mencari tahu dan menemukan sesuatu yang sesuai dengan frame of reference mereka yang masih sangat simple. Bermain bagi seorang anak adalah aktivitas ‘pencarian’ untuk menemukan apa yang sedang ia cari. Sedangkan bermain bagi orang dewasa adalah refressing untuk menyegarkan jiwa raga setelah bergelut dengan padatnya pekerjaan. Dunia orang dewasa adalah dunia bekerja, dunia tanggung jawab yang menuntut kerja keras dan nilai-nilai pertanggungjawaban. Disinilah salah satu konsep yang harus dimengerti orang tua dari dunia anak-anaknya. Pengertian ini akan menjadi pupuk yang sangat bagus bagi tumbuh suburnya cinta bila orang tua mau memahaminya. Dengan pemahaman tersebut maka manajement konflik yang muncul dari hubungan anak dengan orang tuanya dapat ditatalaksanakan dengan sehat. Pupuk lainnya adalah kesadaran diri bahwa “saya adalah orang tua mereka dan mereka adalah anak-anak saya”. Kesadaran ini akan membawa orang tua untuk “tahu diri” dan mampu mengendalikan ego secara baik. Kesadaran diri dan pengendalian ego yang baik ini akan berimplikasi pada terbentuknya keseimbangan antara emosi dan kesadaran orang tua atas tugas dan tangung jawab pengasuhan terhadap anak-anaknya. Pupuk lainnya lagi bagi suburnya cinta adalah kesediaan untuk selalu bersama dalam duka dan suka. Memperbanyak waktu bersama keluarga di sela-sela kesibukan bekerja, merupakan energi yang luar biasa untuk memupuk cinta. Kebersamaan akan menciptakan pemahaman dan menumbuhkan pengenalan yang lebih baik antara satu anggota keluarga dan anggota lainnya. Kebersamaan juga akan menumbuhkan empati dan kerja sama. Dimana semua itu akan bermuara pada terbentuknya rasa ukhuwah atau persaudaraan yang lebih kuat dan lebih baik. Persaudaraan yang kokoh adalah muara akhir dari energi cinta. Kesuburan cinta harus pula ditingkatkan dengan doa. Ketulusan dan keikhlasan doa merupakan jembatan bagi manusia untuk membentuk kehidupan jiwa yang khusuk, jiwa yang tawadu’, konaa’ah dan istiqomah , dimana semua itu akan menuntun terwujutnya perilaku yang halus sebagai wujut kematangan jiwa. Doa adalah intinya ibadah, di dalam doa termuat muatan cinta yang tidak terbatas. Maka berdoalah anda maka anda akan menjadi orang kaya dengan cinta. Doa akan menuntun manusia untuk mengakui bahwa dirinya adalah doif, lemah dan penuh ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan inilah yang mendorong manusia untuk bersama membangun kekuatan yang namanya Cinta. Antara Ketegasan dan Kekerasan Tidak ada satupun alasan pembenar yang dapat membenarkan tindak kekerasan pada anak untuk sebuah metode pendidikan. Kekerasan akan meninggalkan dendam dan kebencian. Yang dianjurkan adalah menggunakan pendekatan ketegasan. Tegas berarti aseritif, yaitu membiasakan disiplin untuk melatih bertanggungjawab. Ketegasan memang sering berimplikasi pada suatu suasana yang tidak menyenangkan bagi anak-anak. Namun selama ketegasan itu kita komunikasikan secara terbuka (tidak didasari oleh ego kekuasaan sebagai orang tua), maka lambat laun anak akan mengerti mengapa saya “dipaksa” bigini atau begitu” oleh ayah/ibu saya. Oleh karena itu konsep ketegasan ini harus selalu diiringi dengan pemberlakuan prinsip reward and punishment. Dengan demikian ketegasan tidak meninggalkan jejak dendam dan kebencian, sebaliknya meninggalkan kesan tentang perlunya tanggungjawab dan kedisiplinan. Cinta memang butuh ketegasan. Love your child forever, so they make be you understanding. Love is miracle !! Love is power and love is future ! Thanks You.
………….dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa
mereka……………………(QS. An-Nisa’ : 63) Pendahuluan Dalam konsep ilmu psikologi, proses tumbuh kembang anak adalah merupakan suatu proses yang selalu terkait dengan masalah “belajar”. Artinya anak akan menjadi apa atau menjadi seperti apa, sangat tergantung pada bagaimana Ia belajar. Anak Belajar Dari Kehidupannya
========== Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar menjadi rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar untuk menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar menjadi percaya diri Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan cinta kasih saying dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. (puisi karya : Dorothy Law Nolte) judul asli : Childern Learn What They Live
Dari Mana anak Belajar ?
Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Dari Mana anak Belajar ? Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan, membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality. Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya. Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya. Bagaimana Anak kita Belajar ? Perilaku anak terbentuk melalui proses pembelajaran social (social learning process) terutama melalui mekanisme Imitasi (modeling) dan Identifikasi. Imitasi adalah mekanisme pembelajaran dengan cara menirukan, mencotoh dari model yang dilihat, didengar dan dipersepsikannya. Orang tua sebagai model adalah obyek yang paling dekat untuk ditiru oleh anak-anak. Oleh karena itu orang tua sebagai prime model bagi pembelajaran anak harus ektra dan super hati-hati dalam berucap, berperilaku dan bertindak di hadapan anak-anak. Ingat anak adalah imitator ulung yang tiada taranya. Dengan kata lain, dalam proses tumbuh kembang anak orang tua harus mampu menjadi uswah khasanah (suri tauladan) bagi putra-putrinya. Identifikasi adalah mekanisme psikologis, dimana seseorang (terutama anak-anak) mencoba membentuk identitas dirinya dengan cara mengadopsi secara total figure-figur idialnya (idola) untuk dijadikan identitasnya. Ketika anak mengidolakan orang tua sebagai tokoh super yang dikaguminya maka hal ini menjadi modal yang sangat positip bagi orang tuanya untuk membawa kehidupan masa depan anak-anaknya kepada alur kehidupan yang idial sebagaimana yang diingnkan orang tua. Namun sejalan dengan perkembangan usia seseorang (anak) dan banyaknya rangsang-rangsang social di sekitar kehidupan anak, maka anakpun tidak lagi menjadikan orang tua (ayah/ibu) sebagai tokoh idolanya. Anak mulai menemukan idialitas lain yang lebih sesuai dengan hasrat perkembangan sosialnya. Anak menemukan tokoh idialitasnya dari televisi, bacaan, iklan, internet, sinetron, film yang belum tentu sesuai dengan nilai cultural, agama dan konsep pendidikan kita. Jika hal ini telah mulai terjadi pada anak-anak, maka hak orang tua adalah melakukan”filterisasi” dan intervensi secukupnya untuk mengarahkan agar anak-anak tidak terperosok pada pemilihan idola yang salah. Namun demikian orang tua tidak berhak untuk mencegah atau melarang anak menemukan idialitas dan identitasnya yang ia pungut dari kehidupan di sekitarnya. Dengan Cinta Kita Bicara Cinta adalah bahasa yang paling universal dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Sebab cinta merupakan amunisi jiwa yang sangat dahsyat yang mampu mengalahkan kedahsyatan topan tornado maupun ganasnya luapan lahar gunung merapi. Atas nama cinta, banyak orang (ibu) yang rela berkorban demi kemuliaan hidup anak-anaknya. Apakah Cinta ? Dalam perspektif psikologi, cinta diidentifikasikan sebagai energi kehidupan positif yang bersifat afektif (emosi) . Energi cinta akan membawa seseorang pada perilaku yang positip, karena dalam cinta tersebut terkandung unsur-unsur positip seperti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kejujuran, kepercayaan dan kesunguh-sungguhan. Ketika energi cinta ini diimplemetasikan dalam mendidik anak-anak, maka orang tua harus berlaku ikhlas (lahir dan bathin), sabar dan penuh kasih sayang. Kasih sayang dalam kontek ini tidak berarti harus selalu memberi atau menuruti semua kehendak anak, tetapi mempertegas sikap untuk memberi pelajaran pada anak bahwa tidak setiap keinginan atau kehendak itu harus terpenuhi. Ketegasan tidak sama dengan kekerasan !! Dunia anak-anak jauh sangat berbeda dengan dunianya orang tua/dewasa. Banyak hal yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara keduanya. Kenyataan ini sering membuat orang tua tidak sabar dan tidak tabah dalam mengsuh/mendidik putra-putrinya. Ketidaksabaran dan ketidaktabahan ini menimbulkan konflik yang sering memicu timbulnya kemarahan, sehingga cinta yang semestinya menjadi energi positif berubah menjadi energi destruktif yang merusak sendi-sendi harmoni cinta antara orang tua dan anak-anaknya. Oleh karena itu memelihara cinta sebagai amunisi jiwa adalah merupakan kata kunci untuk membangun kejujuran, kepercayaan dan kesungguhan dalam “gerakan” mendidik dan mengasuh anak-anak tercinta. Bagaimana Memelihara Cinta ? Sebagaimana sebuah tanaman, Cinta juga memerlukan pemeliharan yang baik agar tumbuh subur, berbunga indah dan berbuah lebat. Tanaman perlu dipupuk dengan pupuk organic untuk menjaga kesuburannya, maka cinta juga perlu disuburkan dengan pupuk-pupuk rohaniah. Diantara pupuk yang paling mujarap untuk menjaga kesuburan cinta adalah menumbuhkan rasa saling mengerti. Orang tua harus mencoba belajar memahami dunia anak-anak. Anak-anak bukan merupakan manusia dewasa dalam bentuk mini. Artinya jangan memeperlakukan anak-anak seperti kita memeperlakukan orang dewasa. Anak mempunyai dunianya yang khas, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Dunia anak-anak adalah berekplorasi, berekperimen mencari tahu dan menemukan sesuatu yang sesuai dengan frame of reference mereka yang masih sangat simple. Bermain bagi seorang anak adalah aktivitas ‘pencarian’ untuk menemukan apa yang sedang ia cari. Sedangkan bermain bagi orang dewasa adalah refressing untuk menyegarkan jiwa raga setelah bergelut dengan padatnya pekerjaan. Dunia orang dewasa adalah dunia bekerja, dunia tanggung jawab yang menuntut kerja keras dan nilai-nilai pertanggungjawaban. Disinilah salah satu konsep yang harus dimengerti orang tua dari dunia anak-anaknya. Pengertian ini akan menjadi pupuk yang sangat bagus bagi tumbuh suburnya cinta bila orang tua mau memahaminya. Dengan pemahaman tersebut maka manajement konflik yang muncul dari hubungan anak dengan orang tuanya dapat ditatalaksanakan dengan sehat. Pupuk lainnya adalah kesadaran diri bahwa “saya adalah orang tua mereka dan mereka adalah anak-anak saya”. Kesadaran ini akan membawa orang tua untuk “tahu diri” dan mampu mengendalikan ego secara baik. Kesadaran diri dan pengendalian ego yang baik ini akan berimplikasi pada terbentuknya keseimbangan antara emosi dan kesadaran orang tua atas tugas dan tangung jawab pengasuhan terhadap anak-anaknya. Pupuk lainnya lagi bagi suburnya cinta adalah kesediaan untuk selalu bersama dalam duka dan suka. Memperbanyak waktu bersama keluarga di sela-sela kesibukan bekerja, merupakan energi yang luar biasa untuk memupuk cinta. Kebersamaan akan menciptakan pemahaman dan menumbuhkan pengenalan yang lebih baik antara satu anggota keluarga dan anggota lainnya. Kebersamaan juga akan menumbuhkan empati dan kerja sama. Dimana semua itu akan bermuara pada terbentuknya rasa ukhuwah atau persaudaraan yang lebih kuat dan lebih baik. Persaudaraan yang kokoh adalah muara akhir dari energi cinta. Kesuburan cinta harus pula ditingkatkan dengan doa. Ketulusan dan keikhlasan doa merupakan jembatan bagi manusia untuk membentuk kehidupan jiwa yang khusuk, jiwa yang tawadu’, konaa’ah dan istiqomah , dimana semua itu akan menuntun terwujutnya perilaku yang halus sebagai wujut kematangan jiwa. Doa adalah intinya ibadah, di dalam doa termuat muatan cinta yang tidak terbatas. Maka berdoalah anda maka anda akan menjadi orang kaya dengan cinta. Doa akan menuntun manusia untuk mengakui bahwa dirinya adalah doif, lemah dan penuh ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan inilah yang mendorong manusia untuk bersama membangun kekuatan yang namanya Cinta. Antara Ketegasan dan Kekerasan Tidak ada satupun alasan pembenar yang dapat membenarkan tindak kekerasan pada anak untuk sebuah metode pendidikan. Kekerasan akan meninggalkan dendam dan kebencian. Yang dianjurkan adalah menggunakan pendekatan ketegasan. Tegas berarti aseritif, yaitu membiasakan disiplin untuk melatih bertanggungjawab. Ketegasan memang sering berimplikasi pada suatu suasana yang tidak menyenangkan bagi anak-anak. Namun selama ketegasan itu kita komunikasikan secara terbuka (tidak didasari oleh ego kekuasaan sebagai orang tua), maka lambat laun anak akan mengerti mengapa saya “dipaksa” bigini atau begitu” oleh ayah/ibu saya. Oleh karena itu konsep ketegasan ini harus selalu diiringi dengan pemberlakuan prinsip reward and punishment. Dengan demikian ketegasan tidak meninggalkan jejak dendam dan kebencian, sebaliknya meninggalkan kesan tentang perlunya tanggungjawab dan kedisiplinan. Cinta memang butuh ketegasan. Love your child forever, so they make be you understanding. Love is miracle !! Love is power and love is future ! Thanks You.
Langganan:
Postingan (Atom)