Kamis, 31 Maret 2011

PSIKOLOGI KONTEMPORER: PSIKOLOGI ISLAMI OLEH: DRS. ARIF WIBISONO ADI, MM

ZEITGEIST (SEMANGAT JAMAN) AKHIR ABAD 20 – AWAL ABAD 21
Post Modernisme yang timbul pada akhir abad 20 menimbulkan semangat Dekonstruksi (pembongkaran pemikiran) pada kemapanan yang menganggap Dunia Barat sebagai satu-satunya peradaban yang memonopoli kebenaran, termasuk di bidang ilmu. Timbullah kemudian pandangan-pandangan alternatif, yang berbeda dengan yang dianut oleh Barat. Pandangan hidup, budaya, agama yang sama sekali lain dengan yang berkembang di Barat mulai dihargai eksistensinya.
Selain itu semangat Globalisasi mulai meluas pula. Timbullah pandangan-pandangan yang bersifat Multikulturalisme. Budaya yang bermacam ragam pun diakui keberadaannya dan dihargai hak hidupnya.
Di kalangan umat Islam, setelah memasuki abad XV Hijriyah, mulai timbul pula semangat Kebangkitan Islam. Mereka mulai sadar, mereka tidak dapat terus menerus hanya sebagai buntutnya Barat. Setelah merdeka dari penjajahan militer, mereka pun ingin pula merdeka dari penjajahan di bidang-bidang yang lain, termasuk di bidang ilmu. Apalagi mulai timbul kesadaran di kalangan ilmuwan Islam, ternyata di bidang ilmu, Islam justru pernah mengalami kejayaannya, punya warisan yang cukup kaya, dan Barat justru pernah belajar dari Dunia Islam.
Maka ilmuwan Islam mulai kritis terhadap ilmu yang berkembang di Barat dan mulai menyadari kekurangan dan kelemahannya. Timbullah upaya untuk mengembangkan ilmu yang sesuai dengan pandangan hidup dan budaya Islam.
Dalam psikologi yang menjadikan jiwa atau perilaku manusia sebagai objek kajiannya, mulai timbul semangat untuk membangun psikologi yang didasarkan pada konsep manusia menurut Islam, bukan didasarkan pada konsep manusia menurut pandangan Barat.
Maka pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini berkembanglah Psikologi yang berwawasan Islam yang disebut: Psikologi Islami, tapi ada pula yang menyebutnya Psikologi Islam, Psikologi Profetik, Psikologi Qur’ani, Psikologi Ilahiah dan seterusnya.



LATAR BELAKANG PERLU DIKEMBANGKANNYA PSIKOLOGI ISLAMI
Setiap komunitas yang mengambil oper ilmu dari komunitas lain, akan selalu melakukan “Naturalisasi Ilmu” (Kartanegara, 2003, h. 111), suatu proses akulturasi dari sebuah ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku di ranah baru. Oleh karena itu, naturalisasi bisa dipakai dalam arti “mempribumikan” ilmu asing sehingga cocok dengan nilai-nilai budaya atau pandangan keagamaan sebuah negeri atau peradaban. Naturalisasi Ilmu terjadi di mana saja dan kapan saja di sepanjang sejarah perkembangan ilmu. Misalnya, ketika peradaban Mesopotamia menerima pelbagai corak budaya (bahkan agama) dari wilayah-wilayah di sekitarnya, di sana terjadi proses asimilasi dan akulturasi yang pada akhirnya menimbulkan corak budaya dan peradaban Mesopotamia yang khas.
Ketika dunia Islam mengalami kejayaannya, mereka melakukan naturalisasi ilmu dari ilmu-ilmu yang diambilnya dari Yunani, Cina, India, Mesir Kuno dan lain-lain. Inilah Islamisasi Ilmu tahap pertama.
Ketika dunia Barat yang waktu itu sedang mengalami “The Dark Ages” mengambil ilmu dari dunia terjadi akibat pemisahabnWesternisasi Ilmu yang hasilnya berupa Sekulerisasi Ilmu, karena pada waktu itu sedang terjadi konflik antara tokoh-tokoh ilmuwannya dengan tokoh-tokoh gereja (kasus Galileo Galilei), sehingga mereka memisahkan ilmu dari agama, tokoh ilmuwan urusi ilmu dan tokoh gereja urusi agama.
Saat ini umat Islam yag mengambil ilmu dari Barat, sesungguhnya perlu pula melakukan naturalisasi Ilmu, yaitu menyesuaikan ilmu yang diambilnya itu dengan wawasan dan pandangan hidup Islam. Inilah Islamisasi Ilmu tahap kedua. Dalam bidang psikologi, berkembanglah Psikologi Islami.
Selain itu, ilmu sekuler Barat yang sekarang mendominasi dunia sesungguhnya mulai dirasakan kelemahan dan kekurangannya. Banyak kritik-kritik kaum ilmuwan dilancarkan terhadap ilmu sekuler Barat ini, bahkan dari kalangan orang Barat sendiri (seperti Fritjof Capra, Thomas Kuhn dan lain-lain). Banyak terjadinya krisis-krisis global diyakini akibat penerapan ilmu yang sekuler ini, yang dikatakan bebas nilai, pragmatis, materialistis dan individualis saja, yang cenderung untuk kepentingan kelompok manusia sesaat saja tanpa memperhaitkan kepentingan global alam semssta, dan nilai-nilai ilahiah dicampakkan begitu saja. Seolah timbullah kemudian suatu Budaya Inderawi.
Psikolog Islam yang mempelajari Psikologi Barat yang sekuler mula-mula terpesona, kemudian menjadi sadar, dengan mengambil oper ajaran-ajaran psikologi Barat tanpa kritik, atau menelan bulat-bulat konsep-konsepnya, akhirnya akan menimbulkan kepribadian yang terpecah atau “Split Personality” . Hal ini a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar