Selasa, 11 Mei 2010

MENUJU YANG TERBAIK UNTUK CITA CITA ANAK


Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan yang terbaik bagi putra-putrinya. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tua untuk memberikan kehidupan yang terbaik untuk putra-putrinya, mulai dari mencarikan sekolah yang terbaik (sesuai dengan kemampuan), kecukupan gizi dan nutrisi yang berkualitas, aneka mainan dan bahkan menuruti keinginan-keinginan putra putrinya !



Namun demikian pada satu sisi yang lain orang tua sering tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan intervensi (campur tangan yang sifatnya memaksa) yang terlalu jauh dalam kehidupan masa depan anaknya sehingga anak mengalami berbagai tekanan dan ketidaknyamanan dalam menjalankan fungsi kehidupannya sehari hari. Sebagi contoh misalnya dalam mengarahkan masa depan kehidupan dan cita-cita sang anak. Orang tua sering mengarahkan anaknya agar besuk jadi ini atau jadi itu dengan cara-cara yang tidak konstruktif dan tidak kondusif bagi kehidupan psikologis anak. Misalnya memaksakan anaknya masuk sekolah ini atau itu, kuliah di fakultas ini atau itu yang tidak disukai atau tidak diinginkan sang anak dan sebagainya. Jika anak tidak mau dan tidak suka sekolah di pondok pesantren misalnya, sebaiknya anak tidak dipaksa untuk mondok. Namun tidak berarti orang tua tidak boleh meminta konfirmasi afirmatif kepada anaknya mengapa dia tidak mau mondok di pondok pesantren. Jika hasil konfirmasi afirmatif tersebut tidak didasarkan pada pemahaman tentang pondok pesantren yang logis dan benar, dan anak tidak punya alasan yang logis maka orang tua perlu memberikan ekplansi /the detail to explanations (penjelasan secara detail sehingga menjadi benar dan terang) tentang permasalahan tersebut. Ekplanasi tersebut bisa dilakukan dengan memberikan real experiance (pengalaman nyata) pada anak dengan cara mendatangi atau mengajak anak untuk mengenali secara langsung bagaimana sesungguhnya kehidupan pondok pesantren itu. Bisa juga dengan mendatangi acara open house, atau boleh pula mengundang other person yang pernah sekolah di pondok pesantren sebagai model yang layak ditiru.
Proses dinamis yang berlangsung tersebut akan memberi kesempatan pada anak untuk membangun personal idial perception guna menyeimbangkan (adjusment balancing) dengan personal idial perception orang tuanya. Bila keseimbangan persepsional ini telah terbangun (anak dan orang tua bisa saling menyesuaikan diri) maka tidak usah dipaksa-paksa pun anak akan mengikuti kehendak dan selera orang tuanya.
Dialog dan proses keseimbangan hubungan (relationship) adalah kata kunci yang harus dipegang oleh orang tua dalam mengarahkan, membentuk dan mewujutkan cita-cita dan masa depan putra-putrinya tercinta. Hindarkan menggunakan bahasa “pokoknya” dan model-model pendekatan pemaksaan dalam pengasuhan, perawatan dan pendidikan putra-putri kita. Bahasa demokrasi dan bahasa egalitarinisme (kemitraan dan kesejajaran) tampaknya akan lebih elok kita pakai dalam mengantarkan putra-putri kita mencapai cita-cita dan masa depan
II
Apakah Salah ?
Dengan menyimak statemen-statemen tersebut diatas timbulah pertanyaan-pertanyaan , mengapa kadang-kadang orang tua suka memakasakan kehendaknya pada sang anak ? Mengapa kadang-kadang orang tua suka egocentrime minded ? mengapa orang tua suka merasa paling tahu dan paling bener ? mengapa orang tua over protective ? Mengapa semua hal itu terjadi ? Mengapa demikian? dan sejuta tanda tanya lain, mengapa…mengapa…mengapa. Apakah semua itu merupakan hal yang salah ??
Orang tua, baik secara sadar maupun tidak sadar memang terlalu cenderung bersikap egocentristis dan proteksionis kepada anak-anaknya, karena secara instingtif orang tua punya anggapan bahwa anak adalah tanggung jawabnya penuh, anak tidak mengerti apapun tentang apa yang harus dilakukan untuk dirinya. Artinya orang tua memandang kehidupan atau dunia putra-putrinya dari sudut pandang atau perspektif dirinya,bukan sebaliknya, orang tua mencoba melihat kehidupan anak dari dunia anak itu sendiri. Orang tua sangat sering menganggap anak adalah helpless (selalu butuh ditolong karena tak berdaya) dan tidak banyak tahu tentang banyak hal sehingga anak harus selalu diarahkan, ditunjukkan, dan di tentukan arah perilaku, perbuatan bahkan perasaan-perasaanya.
Kondisi atau situasi yang demikian ini sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang salah, dalam pengertian bukan sebagai perilaku pengasuhan yang menyimpang, sebab perilaku orang tua yang sedemikian tadi adalah merupakan dorongan instingtif ( insting maternal) yang dikembangkan / dimodifikasi melalui proses pembelajaran lingkungan (social learning process) secara terus menerus sehingga terpola sebagai bentuk pengasuhan protective intervensif yang tidak disadari. Agar situasi relationship anak – orang tua yang kurang nyaman ini tidak berkembang menjadi “tindakan” yang salah maka satu hal penting yang harus dipahami oleh jajaran orang tua adalah “memahami dunia anak” dalam perspektif kepentingan anak, bukan kepentingan orang tua semata-mata. Memahami siklus kehidupan anak tidak cukup hanya dengan memberikan perhatian dan mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya, tetpi jauh lebih penting dari semua itu adalah memberikan perlakuan yang tepat, dengan memperlakukan anak sesuai dengan dunia anak-anak itu sendiri.
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil ! sehingga anak harus diperlakukan sebagai anak, jangan sekali-kali memperlakukan dan menuntut anak untuk berbuat, berperilaku dan bertanggungjawab layaknya orang dewasa.
III
Temukan Apa Cita- Cita Anak Anda ?
Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua kepada putra putrinya tentang besuk mau jadi apa, sebenarnya bukan merupakan sekedar pertanyaan basa-basi atau pertanyaan iseng. Pertanyaan tersebut mengandung ekpektasi (pengharapan) orang tua terhadap masa depan anak. Jawaban anak pun sebenarnya bukan sekedar jawaban jawaban spontanitas. Jawaban tersebut muncul setelah melalui serangkaian proses pembelajaran lingkungan dan pembelajaran psikologis yang komplek. Jika demikian halnya maka wajib bagi orang tua untuk memberikan apresiasi yang positip dan konstruktif dalam menterjemahkan jawaban atas pertanyaan “adik besuk mau jadi apa” tersebut. Misalnya anak ingin menjadi sesuatu yang tidak diinginkan orang tua maka tidak sepantasnya jika orang tua langsung men-cut dan langsung memberikan arahan atau komando agar menjadi sesuatu yang lain saja yang sesuai dengan values & frame of refrence orang tuanya. Bila kondisi yang disebut terakhir tadi benar-benar terjadi maka anak akan mengalami krisis rasa percaya diri dan menjadi pribadi yang sangat dependenable (sangat tergatung pada keputusan orang lain). Oleh karena itu, jika anda ingin mengantarkan putra-putri anda menjadi pribadi yang visioner dalam mewujutkan cita-cita masa depannya, lakukanlah “tuntunan” bukan arahan. Tuntunan dalam pengertian ini adalah tut wuri handayani, sedangkan arahan itu adalah mengarahkan anak pada target yang telah ditetapkan oleh orang tua. Agar kita tidak salah dalam “menuntun” putra putri kita, berikut adalah beberapa hal yang harus kita (orang tua) lakukan.

1. Kenali potensi awal anak anda : Semenjak usia dini lakukanlah pengenalan potensi awal anak-anak kita. Potensi awal ini terbentuk lebih karena interaksi stimulatif antara anak dengan kehidupan di sekitarnya. Pada usia yang dini anak lebih benyak belajar melalui mekanisme pengamatan dan peniruan, sehingga aktivitas dan dinamika yang terjadi di sekitar kehidupan anak akan sangat mempengaruhi terbentuknya potensi awal ini. Pengenelan potensi awal ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
- observasi terhadap kegemaran, ketrampilan, kebiasaan sehari hari
- prestasi akademik (academic report)
- tes potensi (psikotes) bila perlu
- karya-karya yang dihasilkan (lukisan, musik, puisi, hobby, mainan-mainan dan sebagainya)
2. berikan anak kesempatan untuk mengekpresikan potensi-potensi positip yang dimiliki, dengan cara tidak terlalu banyak melakukan pelarangan-pelarangan secara ektrim. Pengawasan memang tetap diperlukan tetapi jangan terlalu over protective. Ketika seorang anak (usia SD kelas 4 sampai remaja) merasa selalu diawasi dan dilindungi, anak akan merasa tidak nyaman karena pada usia tersebut anak sudah mulai menemukan “aku” nya. Bila rasa tidak nyaman tersebut berlarut-larut maka anak akan melakukan ‘pemberontakan dan perlawanan’ dengan melakukan perilaku-perilaku yang sekiranya membuat orang tuanya cemas atau gelisah (dalam hati anak berkata “rasain loe” ).
3. Diskusikan apa yang anda inginkan atas masa depan anak anda dan apa yang anak anda inginkan atas dirinya, dalam suatu forum ‘perbincangan’ ringan dalam keluarga. Sesuper sibuk apapaun, Anda harus memaksa diri untuk menyisihkan dan meluangkan waktu berbicara dengan putra-putri anda. Perbincangan anak-orang tua yang dilandasi dengan kasih sayang akan menjadi energi positip bagi terwujutnya “sinergi cinta” dalam keluarga. Sinergi cinta ini adalah nutrisi kehidupan dalam keluarga yang sangat spektakuler.
4. Tahan diri anda untuk tidak berlaku otoriter, memaksakan keinginan anda kepada anak, dengan mengkamuflasekan seakan-akan hal itu untuk kepentingan anak anda.
5. Perkenalkan anak dengan berbagai profesi, sehingga anak memperoleh gambaran tentang berbagai profesi yang kelak bisa dia pilih.
6. Biarkan dan diskusikanlah terus ketika anak anda mempunyai cita-cita yang berubah-ubah. Biasanya cita-cita seseorang itu akan terfokus pada satu target cita-cita tertentu adalah pada saat anak mencapai usia pendidikan setara dengan kelas III SMA.
7. siapkan diri anda secara financial maupun secara mental untuk mengkawal cita-cita putra-putri tercinta.
8. Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo manun Karso.
9. Doakan dengan sungguh-sungguh, karena anaka adalah amanah dan titipan tuhan kepada kita.

Selamat menjadi orang tua yang Hebat !
Sukomulyo – Kadipiro Tuesday, July 22, 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar