Minggu, 03 April 2011

Proses dan Aplikasi Penulisan Karya Ilmiah

Soleh Amini Yahman

Salah satu tugas penting yang harus dilakukan oleh seorang akdemisi adalah menulis karya ilmiah. Penulisan karya ilmiah adalah merupakan salah satu aktivitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang akademikus. Tanpa adanya kemampuan menulis karya ilmiah dengan baik dan benar maka belum lengkaplah identitasnya sebagai seorang ilmuwan atau akdemikus.

Kemampuan untuk dapat menulis karya ilmiah tidak begitu saja di dapat oleh seorang akademikus begitu Ia memasuki jenjang pendidikan terrtentu. Kemampuan tersebut harus dipelajari setahap demi setahap dan menjadikan latihan tersebut sebagai kebiasaan rutin sehari-hari, sehingga dalam dirinya terpola suatu kebiasaan berpikir akademis. dengan pola yang demikian maka seoang akademisi akan mampu menuangkan segala bentuk gagasan, ide dan kreasi-kreasinya dalam kontek keilmiahan. Oleh karena itu saya tidak terlalu berpretensi bahwa dengan kegiatan pelatihan dalam acara pengenalan program studi (PPS) di Akper ini , anda semua lantas akan menjadi trampil dan pandai untuk membuat karya Ilmiah. Namun hendkalah kegiatan pelatihan ini dapat dijadikan titik awal bagi anda semua untuk membiasakan diri berlatih membuat suatu karya ilmiah, karena anda semua akan menyandang identitas baru sebagai akademisi muda yang kelak akan menggantikan paa senior-senior kita yang ada sekarang ini.
Tulisan atau karya ilmiah berbeda dengan karya-karya tulis lain seperti novel, cerpen, artikel koran, laporan jurnalistik,kumpulan makalah, dan lain-lain, meskipun tulisan-tulisan tadi bisa pula disusun secara ilmiah sehingga menjadi karya ilmiah. Tulisan atau karya ilmiah memiliki karakter (pensifatan) yang khas yang berbeda dengan tulisan-tulisan lain seperti Essay, artikel, makalah seminar, laporan jurnalistik ataupun karya-karya sastra tadi. Karakter khas dari tulisan ilmiah itu terletak pada sistematika, methode, pendekatan analisis dan Tujuan penulisan. Tulisan ilmiah bukan sekedar bersifat pemaparan atau diskripsi (penggambaran), tetapi lebih bersifat mencari penyelesaian dari suatu masalah yang timbul di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Sedangkan tulisan-tulisan lain seperti tersebut di atas tadi kebanyakan hanya bersifat pemaparan dan diskripsi dari suatau permasalahan tanpa ada upaya untuk menyelesaikan masalah tadi. Namun sekali lagi saya tegaskan, tulisan-tulisan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi suatu karya ilmiah.
Tulisan atau karya ilmiah menuntut dipenuhinya suatu sistematika dan metode-metode tertentu serta pendekatan analisis yang tepat sesuai dengan sifat data yang ada serta tujuan dari penulisan atau penyususnan karya ilmiah tersebut. Dengan cara-cara tersebut maka konklusi atau kesimpulan yang diambil oleh penulis akan dapat dipertahankan validitas keilmiahannya. Dengan kata lain karya tulis ilmiah baru akan dapat disusun bila penulis telah mempunyai sistematika, metode dan pendekatan analisis yang sesuai dengan tujuan penulisan.

Lahirnya Karya Ilmiah
Tulisan ilmiah biasanya lahir dari suatu kegiatan penelitian atau pengamatan ilmiah , bukan dari suatau perenungan, lamunan ataupun fantasi-fantasi. Oleh akrena itu dari sudut pandang metodologi penelitian ilmiah, karya-karya tulis yang lahir dari dunia khayalan seperti komik, novel, cerpen, puisi tidak termasuk sebagai karya ilmiah atau disebut sebagai karya tulis fiksi. Namun demikian karya-karya tulis fiksi tadi dapat dikaji secara ilmiah sehingga melahirkan karya tulis ilmiah.
Karya tulis ilmiah itu biasanya berupa (berwujut) laporan ilmiah dari satu tugas akdemik, yaitu Skripsi, teshis, disertasi, kertas kerja, makalah seminar atau diskusi laporan studi kasus dan lain-lain.
Apakah Penelitian ilmiah itu ?
Salah satu ciri dari seorang ilmuwan itu adalah tingginya dorongan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. Ia akan selalu bertanya dan bertanya terhadap segala bentuk fenomena yang dilihat dan dirasakannya. Dorongan rasa ingin tahu inilah yang mendorong mengapa seseorang melakuakn penelitian ilmiah.
Penelitian ilmiah adalah sautu usaha yang secara sengaja dan sistematis dilakukan oleh seorang ilmuwan untuk mengetahui suatu kebenaran dari suatu gejala atau fenomena. Kegiatan penelitian atau pengamatan yang dilakukan oleh seorang ilmuwan dengan suau sistematika yang runtut, bukan sekedar Trial and error, serta menggunakan metode-metode keilmiahan yang dibenarkan secara keilmuan, yaitu metode obyektif relaistik. Karena sifatnya yang obyektif realistik inilah maka penelitian ilmiah sangat mengandalkan pada adanya fakta berupa data, dan kemudian dilakukan analisa terhadap data tersebut.
Penelitian ilmiah dimulai ketika seorang ilmuwan menemukan atau merasakan “adanya suatu masalah’ dari suatu fenomena tertentu (misalnya fenomena sosial) sehingga ia ingin mengetahunya. Oleh karena itu, sebelum suatu penelitian ilmiah itu dimulai, maka seorang peneliti harus mampu merumuskan masalah apa sih yang akan ia teliti. Dengan rumusan masalah yang jelas, maka penelitian yang dilakukan akan terfokus hanya pada masalah pokok yang benar-benar akan diteliti, dalam artian tidak meluas ke maslah-masalah lain yang sebenarnya tidak menjadi tujuan penelitian. dengan kata lain ‘rumusan masalah’ dari suatu penelitian perlu dirumuskan terlebih dahulu sebelum kita menentukan model, metode serta pendekatan analisisnya.
Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah
Secara umum karya tulis ilmiah dapat dicirikan dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Karya tulis ilmiah terlahir dari suatu penelitian ilmiah.
2. Karya tulis ilmiah menyajikan data-data secara akurat, sistematis dan metodis. Data disini bisa berupa angka, frekensi, kualifikasi, kategori dan lain sebaginya).
3. Karya tulis ilmiah mempunyai rujukan teoritis
4. Karya tulis ilmiah biasnya telah teruji kebenarannya oleh ahli-ahli lainnya.
5. Karya tulis ilmiah jarang sekali menggunakan bahasa popular .
6. Karya ilmiah sering menggunakan idom-idom yang khas dari suatu disiplin ilmu tertentu.
7. Bentuk formalnya berupa laporan.

Sifat-karya tulis Ilmiah
1. Kajian Analisisnya mendalam dan intensif
2. biasnya bersifat diskriptif, vertehen (memahami) serta solve (memecahkan)
3. Terbuka dalam arti hasil dari sautu karya ilmiah itu dapat diuji atau diferivikasikan oleh ahli lain
4. sifat kebenarannya bersifat relatif

Bagaimana Mulai menulis ilmiah ?

1. Pendahuluan.
Pada PENDAHULUAN ini seorang penulis harus mempu memberian gambaran secara umum tentang karya tulisnya. Misalnya tentang latar belakang mengapa penulis merasa tertarik dan merasa perlu membahas hal-hal yang ditulisnya itu. Apa manfaatnya bagi masyarakat pembacanya, apa tujuannya, bagaimana sistematika penulisannya dan lain sebagainya. Yang penting diperhatiakan disini bahwa bab Penddahuluan itu bukan bersifat basa basi. Pendahuluan bertujuan untuk mengantarkan pembaca pada ‘ alam’ baru dari sang penulis, sehingga pembaca akan memperoleh gambaran permasalahan dari tema penulisan tersebut sebagaimana gambaran yang diinginkan oleh penulis. dengan kata lain dengan pendddahuluan ini akan terjadi persaman ‘frame of refrence” yang sama antara penulis dan pembacanya.
2. Setelah anda tuliskan latar belakang tema atau isi tulisan anda tersebut, maka anda sebagai penulis harus secara jelas merumuskan masalah apa yang ingin anda angkat dalam tulisan. rumusan masalah ini ditempatkan secara tegas pada alinia terakhir dari bab pendahuluan. Rumusan masalah harus disajikan secara jelas dan dalam rumusan bahasa yang singkat dan padat. Rumusan masalah ini sangat peenting untuk membatasi pembicaraan atau penulisan , agar tulisan anda tidak melebar ke hal-hal lain yang barangkali tidak berhubungan secara langsung dengan tema tulisan anda.
3. Tinjauan Pustaka atau tinjauan teoritis. Jangan dikira teori itu tidak penting ! Setelah anda secara jelas merumuskan masalah yang akan anda bahas dalam tulisan anda, maka langkah selanjutnya adalah melakukan klarifikasi dan identifikasi terhadap teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas. Teori-teori ini penting bagi penulis untuk dijadikan rujukan dalam melakukan analisa dari data-data yang anda miliki.
4. Analisa Permasalahan. Setelah beres dengan urusan teori, maka selanjutnya penulis harus menganalisa permasalahan menurut teori-teori yang relevan. Nalisa ini dapat anda lakukan secara kualitatif, kuantitaif maupun kombinasi dari kedua-duanya.
5. Membuat konklusi atau kesimpulan. Penulisan kesimppulan itu tidak secara eklusif ditulis atau disajikan dalam bab tersendiri. Biasanya kesimpulan ini secara implisit terletak pada alinia terakhir dari bab penutup.
6. Penutup.
Pada bagian ini penulis, berdasarkan hasil analisinya tadi membuat rekomendasi tentang hal-hal yang dibahas dalam tulisnnya. Rekomendasi ini bisa berupa saran yang fovorabel atau unfavorabel terhadap suatu kebijakan, kritik, tehnik atau cara-cara tertentu dalam memecakan suatu masalah dan lain sebagainya. Yang perlu diingat disini bahwa PENUTUP bukanlah merupakan ajang untuk berbasa-basi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar